• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
30 Jun

Risiko Kesehatan Mental pada Saksi Bullying Lebih Besar Dibanding Pelaku dan Korban. Kok Bisa?

by

Halo, Socconians!

Fenomena bullying bukanlah hal yang baru bagi kita semua. Selama hidup, mungkin kamu pernah menyaksikan kejadian bullying atau bahkan mengalaminya. Bullying adalah perilaku agresi baik secara verbal dan nonverbal yang sengaja dilakukan untuk menyakiti orang lain yang lebih lemah. Bullying mampu menyebabkan risiko gangguan mental serta berefek negatif pada kehidupan sosial. Biasanya, pihak yang menjadi sorotan dari kasus bullying adalah pelaku dan korban, tetapi sebenarnya saksi juga merupakan pihak yang patut diperhatikan. Mengapa? Saksi bullying juga ternyata terancam memiliki gangguan kesehatan mental.

Istilah bystander digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang menyaksikan kejadian bullying, baik secara langsung maupun daring. Siapa saja bisa menjadi bystander, dari kenalan pelaku dan korban hingga orang asing. Terkadang bystander memilih untuk tidak ikut campur meski mereka percaya bahwa bullying itu tindakan yang salah. Hal ini disebut dengan bystander effect. Kok bisa, sih? Berikut alasan-alasannya.

  1. Takut menjadi korban selanjutnya
  2. Takut kehilangan status sosial
  3. Tidak berteman dengan korban
  4. Kurangnya pengetahuan tentang alasan bullying dan individu yang terlibat
  5. Tidak tahu bagaimana cara mengatasi dan meleraikan bullying
  6. Percaya bahwa melaporkan pada orang lain hanya akan memperburuk situasi

Meski tidak melakukan tindakan apa-apa, para bystander tetap mendapatkan konsekuensinya tersendiri, yaitu risiko kesehatan mental. Ingat, bukan hanya pelaku dan korban saja yang mengalami dampak gangguan kesehatan mental loh, Socconians!

Menyaksikan kejadian bullying dapat mengarah pada peningkatan kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya khususnya pada remaja. Menurut Rivers dalam penelitiannya di tahun 2009, bystander melaporkan tekanan psikologis yang lebih besar daripada individu yang menjadi pelaku atau korban dalam lingkungan sekolah. Karena sama seperti menyaksikan tindakan kriminal, melihat seseorang yang di-bully dapat menjadi pengalaman traumatis atau dapat mengingatkan seseorang tentang pengalaman traumatisnya sendiri. Penelitian lain yang dilakukan Midgett dan Doumas pada 2019 juga mengemukakan bahwa bystander memiliki gejala depresi yang tinggi. Hal ini terjadi karena bystander cenderung merasakan viktimisasi sekunder ketika menyaksikan kejadian bullying. Jadi, mereka juga merasakan dirinya sebagai korban dan mengalami tekanan batin karena tidak membantu korban yang sebenarnya.

Nah, lalu apa yang harus dilakukan jika kamu menjadi saksi kejadian bullying? Kamu dapat melakukan lebih dari sekadar diam. Kamu punya kekuatan lebih besar daripada yang kamu sadari! Tindakan yang paling tepat adalah menjadi upstander atau seseorang yang mengambil tindakan pada kejadian bullying. Ketika individu yang ditindas mendapatkan dukungan dan perlindungan oleh orang lain, khususnya teman, kemungkinan risiko gangguan kesehatan mental akan semakin kecil bagi korban.

Ada banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk menjadi upstander:

  1. Mempertanyakan alasan bullying pada pelaku saat situasi terjadi
  2. Mengucapkan hal yang lucu dan mengalihkan topik pembicaraan
  3. Memberi tahu pelaku bahwa hal yang dilakukan itu salah
  4. Membubarkan kerumunan jika berada di tempat umum
  5. Mengajak korban untuk meninggalkan situasi bullying
  6. Berjalan atau berdiri di samping korban untuk menurunkan potensi kekerasan fisik
  7. Meminta pertolongan orang lain yang terpercaya untuk menghentikan bullying
  8. Berbicara dengan korban secara pribadi untuk memberi dukungan setelah kejadian
  9. Membantu meredakan gosip yang menyebar

Jika bullying terjadi dalam lingkungan sekolah, guru dan orang dewasa lainnya juga dapat memainkan peran sebagai upstander. Guru dapat melakukan kegiatan untuk meningkatkan pembelajaran emosional-sosial dan memberikan strategi untuk mendukung teman sebaya mereka. Sementara itu, orang dewasa dapat menjadi panutan dan membantu pembentukan lingkungan sosial yang positif. Apabila guru dan orang dewasa memiliki kesadaran akan pentingnya menurunkan fenomena bullying dan bertindak proaktif terhadap semua pihak, maka siswa serta pihak terkait akan optimis dan persentase bystander dapat berkurang.

Nah, setelah membaca artikel ini kamu sudah mengerti kan kenapa saksi bullying juga dapat terancam kesehatan mentalnya? Menyaksikan kejadian bullying menimbulkan trauma dan rasa bersalah atau penyesalan karena tidak membela korban. Socconians*,* yuk turut serta membantu menurunkan tingkat risiko kesehatan mental kamu sendiri dan korban dengan menjadi upstander!

Referensi

Penulis : Jysa Nursakinah

Editor in Chief : Glaniz Izza A.

Editor Medis : Annisa Nur Khalida, S.Psi

Sumber Tulisan :

  1. Beyond the Bully and the Bullied: Bullying Also Impacts the Mental Health of the “Bystanders”. (2012). Diakses pada 15 Juni 2020 dari situs web Magellan Health.
  2. Bullies and Bystanders: What to do when you witness bullying. (2019). Diakses pada 15 Juni 2020 dari situs web Headspace.
  3. Bullying. (n.d). Diakses pada 15 Juni 2020 dari situs web website Psychology Today.
  4. Bystanders are Essential to Bullying Prevention and Intervention. (2018). Diakses pada 15 Juni 2020 dari situs web Stopbullying Gov.
  5. Bystanders to Bullying. (2018). Diakses pada 15 Juni 2020 dari situs web Stopbullying Gov.
  6. Midgett, A., & Doumas, D. M. (2019). Witnessing Bullying at School: The Association Between Being a Bystander and Anxiety and Depressive Symptoms. School Mental Health. doi: 10.1007/s12310-019-09312-6. Diakses dari laman Researchgate pada 15 Juni 2020
  7. Paull, M., Omari, M., & Standen, P. (2012). When is a bystander not a bystander? A typology of the roles of bystanders in workplace bullying. Asia Pacific Journal of Human Resources, 50(3), 351-366.
  8. Rivers, I., Poteat, V. P., Noret, N., & Ashurst, N. (2009). Observing bullying at school: The mental health implications of witness status. School Psychology Quarterly, 24(4), 211–223. doi:10.1037/a0018164. Diakses dari laman APA PsycNet pada 15 Juni 2020.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.