• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
20 Jul

Remaja Rentan Bunuh Diri, Keluarga Perlu Lakukan Ini

by Yoga Prasetyo

Hai, Socconians!

Saat kamu mengikuti isu terkini di televisi atau media daring, tidak jarang kita temui berita mengenai remaja yang melakukan percobaan bunuh diri atau bahkan ada yang sudah melakukannya. Banyak faktor yang memengaruhi individu untuk akhirnya memutuskan bahwa bunuh diri adalah cara yang ideal dan final, seperti kondisi psikis, emosional, tekanan dari lingkungan, dan juga faktor lainnya. Keluarga sebagai lingkungan pertama tempat individu berkembang, memegang peranan krusial di dalam menyikapi permasalahan yang dialami individu.

Penelitian yang dipublikasikan oleh JAMA Pediatrics di Amerika Serikat menemukan bahwa adanya lonjakan pada frekuensi anak hingga remaja berusia 5-8 tahun yang masuk ke Unit Gawat Darurat (khusus anak-anak) dengan sebab melakukan percobaan bunuh diri. Lonjakan kasus meningkat drastis dari 580 ribu kasus pada tahun 2007, menjadi 1,1 juta kasus pada tahun 2015. Ironisnya, studi ini mendapatkan hasil persentase bahwa 43% dari sampel penelitian adalah anak berusia 5-10 tahun. Burstein, sebagai pemimpin dari penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa semakin meningkatnya persentase menunjukkan bahwa masih kurangnya kesadaran mengenai betapa berbahayanya mental yang tidak sehat dan mendorong orang tua untuk mampu membahas pemikiran-pemikiran tersebut dengan anak.

WHO menyatakan pada tahun 2016 bahwa Indonesia menempati peringkat ke-8, kategori statistik data bunuh diri, di antara negara-negara lainnya yang tergabung dalam ASEAN. Hal ini menyatakan bahwa dalam setiap satu jamnya, ada satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Bahkan di tahun 2017, kematian karena bunuh diri mencapai 0,44 persen dari total kematian di Indonesia. Gunung Kidul di Yogyakarta merupakan daerah dengan sumbangsih tertinggi tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak hingga remaja.

Peran keluarga di sini menjadi tangan pertama bagi remaja yang ingin melakukan bunuh diri. Penelitian yang dilakukan terhadap individu ras Afrika Amerika menemukan bahwa faktor sosial seperti keberfungsian dan dukungan dari keluarga yang rendah mampu menjadi salah satu prediktor kuat dilaksanakannya percobaan bunuh diri. Penelitian yang dilakukan oleh Miller et al., menyatakan bahwa perilaku dan kebiasaan yang ada di dalam keluarga, kerap mampu menjadi faktor risiko terbesar bagi pelaku. Persepsi pelaku sepakat dengan jawaban bahwa kurangnya komunikasi dan hubungan yang baik dengan keluarga membuat mereka lebih yakin untuk melakukan percobaan bunuh diri. Penelitian oleh Kerr et al., juga menyatakan bahwa interaksi dan hubungan yang baik dengan keluarga mampu membawa individu merasa disayangi dan memiliki tujuan untuk hidup, dan lingkungan yang menyayangi dia. Keluarga pun diharapkan mampu menjadi bentuk support system yang ideal. Jika remaja tersebut memiliki isu di sekolah atau masalah dengan temannya, keluarga perlu menjadi pendengar yang baik untuk masalah yang sedang dihadapi dan membantu mencari solusinya. Ketika seorang anak bercerita kepada keluarga terhadap masalah yang sedang dihadapinya, di situlah fungsi keluarga berjalan dengan semestinya.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam melakukan upaya mencegah terjadinya bunuh diri pada remaja, yaitu:

1. Pentingnya kepekaan

Beberapa kasus remaja yang ingin melakukan percobaan bunuh diri menunjukkan bahwa tidak jarang dari mereka memiliki hubungan komunikasi yang kurang baik dengan orang di sekitar termasuk dengan keluarganya. Tony Salvatore menyatakan mengenai kepekaan terhadap hal ini dipupuk dari rasa kasih dan sayang keluarga terhadap anggota keluarga yang mengalami permasalahan. Menurut Tony, keluarga menjadi bentuk pencegahan yang paling krusial sebelum individu memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Bentuk kepekaan yang harus diberikan oleh keluarga dibagi menjadi dua yaitu untuk memberikan pengetahuan dan eksplorasi mendalam mengenai pemikiran bunuh diri, serta mengilhami edukasi mengenai bunuh diri agar mampu menjadi lingkungan yang aman dan meningkatkan protective factors sehingga individu merasa nyaman dan aman. Keluarga harus memberikan perhatian yang lebih terperinci terhadap individu dan tidak menganggap remeh permasalahan yang dialami individu serta mengawasi perkembangan individu setiap harinya.

2. Jadi pendengar yang baik

Memiliki keluarga dan dukungan sosial yang mampu menjadi pendengar yang baik bagi individu adalah satu langkah pertolongan yang sangat efektif. Ronald Diamond, Direktur Media Komunitas Kesehatan Mental di Madison (Ibu kota Negara Bagian Wisconsin, Amerika Serikat), menyatakan bahwa langkah pertama penanganan untuk individu dengan pemikiran bunuh diri adalah untuk membiarkannya berbicara dan membahas mengenai pemikiran itu sendiri. Ketika individu tersebut mampu membicarakan mengenai pemikiran bunuh dirinya, maka hal tersebut sudah bukan lagi rahasia yang harus ditutupi dan akan membawa kelegaan bagi individu.

Setelah mendengarkan detail permasalahan yang sedang dihadapi, cobalah untuk melibatkan pihak yang lebih ahli dengan tujuan untuk mendapatkan bantuan. Hal lain yang perlu dilakukan adalah untuk mencoba memberikan semangat hidup. Salah satu caranya adalah dengan melakukan eksplorasi pemikiran mengenai hal-hal apa saja yang membuat individu pantas dan memiliki makna untuk tetap menjalani hidup.

Yaseen dan teman-teman penelitinya, menemukan bahwa perasaan cinta membawa ketenangan dan menjadi faktor protektif bagi pelaku percobaan bunuh diri. Kombinasi dari kehadiran distress dan kehilangan ikatan dengan figur yang esensial menjadi faktor resiko terbesar bagi pelaku untuk menjalankan perilaku tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Fisher, ketika beliau menemukan bahwa terjadinya penolakan dalam cinta dan hubungan mampu menjadi prediktor kuat terjadinya bunuh diri. Yaseen dan teman-teman peneliti menyimpulkan bahwa cinta dan dukungan dari figur yang esensial di sekitar individu sangat krusial dalam menentukan apakah individu memutuskan untuk melakukan bunuh diri atau tidak. Rasa cinta dan perasaan bersyukur menjadi motivasi bagi individu untuk tetap hidup dan merasakan kenyamanan di dunia ini.

3. Cari akar permasalahan

Remaja yang ingin melakukan percobaan bunuh diri mungkin disebabkan oleh tekanan dari lingkungan sekitar atau masalah-masalah lainnya, yang bisa jadi sangat beragam. Saat menghadapi suatu masalah, mereka bingung dan mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah tersebut. Maka keluarga bisa membantu remaja dengan mendengarkan ceritanya, membantu menguraikan masalah, dan meneliti akar permasalahannya. Keluarga juga dapat mengarahkan remaja untuk menemui tenaga profesional atau ahli yang bisa membantu secara lebih mendalam.

Masalah yang dihadapi remaja ketika bunuh diri sering dikaitkan dengan depresi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mencatat pada 2016 remaja yang berusia 12-18 tahun selama periode satu tahun memiliki kecenderungan melakukan bunuh diri sebanyak 17.7%. Angka tersebut setiap tahun kian meningkat hampir 1% yang disebabkan karena mendapatkan tekanan dari lingkungan sekolah, salah satunya adalah bullying.

Ketika permasalahan yang dihadapi adalah bullying di sekolah, maka kamu sebagai salah satu anggota keluarga perlu melakukan mediasi ke beberapa orang. Kamu bisa melibatkan guru, kepala sekolah, wali murid, bahkan pemerintah, sehingga diharapkan permasalahan yang dihadapi dapat terselesaikan, tentunya dengan cara yang tidak memperburuk keadaan korban, dan memastikan bahwa kondisi mental korban pun berangsur-angsur membaik.

4. Dukungan terus-menerus

Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi faktor yang sangat esensial dalam keberlangsungan hidup setiap orang. Semakin rentan dan krusial pada individu yang memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya. Perasaan diterima dan adanya dukungan yang intensif dari lingkungan sekitar membuat individu memiliki perspektif yang positif terhadap dunia yang dijalaninya. Hal ini disebutkan oleh Malone dan teman-teman penelitinya. Diadakan di Kota New York, penelitian ini mendapatkan hasil bahwa dukungan dari sosial menjadi faktor protektif bagi individu dengan cara mengubah cara pandang individu terhadap dunia, menjadi lebih indah dan bahagia.

Nah, apabila kamu melihat atau mendapat kabar bahwa salah satu teman, kenalan, atau anggota keluarga kamu memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bunuh diri, berikanlah perhatian dengan kehadiran kamu dan pastikan mereka tahu kalau kamu akan selalu ada untuk diri mereka dan siap mendengarkan serta menerima mereka. Ketika sedang merasa galau dan mental breakdown, terkadang yang mereka butuhkan adalah telinga untuk didengarkan.

Apabila usaha yang kamu lakukan tidak menunjukkan titik terang, coba bantu dia untuk bisa bertemu dengan orang yang lebih profesional seperti psikolog. Kamu bisa cek tulisan Social Connect yang lain terkait kontak yang dapat dihubungi saat seseorang ingin melakukan bunuh diri.

Jadi tetap jaga kesehatan fisik maupun psikis agar hari-hari kamu tetap bahagia, ya, Socconians!

Referensi

Penulis : Yoga Prasetyo dan Nathania Bianca

Editor-in-Chief : Hafiza Dina Islamy dan Finda Rhosyana

Review Medis : Sohra S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog
Sumber Tulisan : 

  1. Erlanger A. Turner, Sep 08, 2006. Preventing Suicide in Youth: Steps for Parents and Teachers. Sussex Publishers, LLC. Diakses pada 13 Februari 2020 dari situs Psychology Today.
  2. UW Health, April 28, 2009, Listening Helps Prevent Suicide, University of Wisconsin School of Medicine and Public Health. Diakses pada 13 Februari 2020 dari situs UW Health
  3. CNN Indonesia, April 20, 2019. Percobaan Bunuh Diri Anak dan Remaja Kian Meningkat, CNN Indonesia Berita Kesehatan. Diakses pada 13 Februari 2020 pada situs CNN Indonesia
  4. American Academy of Pediatrics, Jan 17, 2019. 10 Things Parents Can Do to Prevent Suicide : Committee on Psychosocial Aspects of Child and Family Health. Diakses pada 13 Februari 2020 dari situs Healthy Children
  5. Miller, K., King, C., Shain, B., & Naylor, M. (1992). Suicide and Life Threatening Behaviour., Diakses pada 22 Juni 2020 dari situs The American Association And Suicidology
  6. Compton, M., Thompson, N., & Kaslow, N. (2005). Social environment factors associated with suicide attempt among low-income African Americans: The protective role of family relationships and social support. Diakses pada 22 Juni 2020 dari situs Social Psychiatry And Psychiatric Epidemiology
  7. Kerr, D., Preuss, L., & King, C. (2006). Suicidal Adolescents' Social Support from Family and Peers: Gender-Specific Associations with Psychopathology. Diakses pada 22 Juni 2020 dari situs Journal of Abnormal Child Psychology
  8. Rakhmat, M., Tarahita, D., Mann, W., Burton, M., AbiNader, J., AbiNader, J., & Mayer, C. (2020). Some Facts about Suicide in Indonesia. Diakses pada 22 Juni 2020, dari https://intpolicydigest.org/2018/10/01/some-facts-about-suicide-in-indonesia/
  9. Salvatore, T. (2009). Suicide Preventions for Consumers and Family Members. Retrieved 23 June 2020, from http://www.mces.org/PDFs/suicidefamily.pdf Diakses pada 24 Juni 2020 dari Mces.org
  10. Malone, K., Oquendo, M., Haas, G., Ellis, S., Li, S., & Mann, J. (2000). Protective Factors Against Suicidal Acts in Major Depression: Reasons for Living. Diakses pada 25 Juni 2020 dari situs American Journal of Psychiatry.
  11. Yaseen, Z., Fisher, K., Morales, E., & Galynker, I. (2012). Love and Suicide: The Structure of the Affective Intensity Rating Scale (AIRS) and Its Relation to Suicidal Behavior. Diakses pada 26 Juni 2020 dari situs Plos One.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.