• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Community
  • Kolaborasi
  • Career
  • Login
01 Jul

Mengenal Gejala Gangguan Autistik pada Anak

by

Kita tidak dapat menutup mata akan keberadaan seseorang dengan gangguan autistik atau yang dikenal dengan sebutan autisme. Mereka bisa saja merupakan teman, tetangga, atau keluarga yang berada di sekitar kita. Dr. Rudy Sutadi, Sp.A., MARS., SPdI, menyatakan bahwa autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, dan etnis.

Hi, Socconians!

Pernahkah Socconians mendengar istilah autisme? Jika pernah, semoga pengertian autisme yang dipahami oleh Socconians itu tepat, ya. Terkadang, kita masih salah dalam penggunaan istilah antara autisme dengan down syndrome, loh, Socconians. Padahal, kedua istilah tersebut merupakan hal yang sangat berbeda. Pada artikel kali ini, tim Social Connect akan mencoba membahas mengenai simtom autisme, khususnya pada anak. Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas terlebih dahulu apa itu autisme.

Gangguan autistik atau yang lebih lengkapnya disebut dengan Autism Spectrum Disorder adalah gangguan perkembangan yang berdampak pada interaksi sosial dan komunikasi, pemrosesan sensorik, serta perilaku yang repetitif pada individu. Kata spektrum memiliki arti bahwa simtom autisme yang muncul bervariasi jenis dan tingkat keparahannya pada setiap individu. Pada umumnya, simtom Autism Spectrum Disorder dimulai pada masa kanak-kanak dan cenderung menetap hingga remaja dan dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 80-90% dari individu yang mengidap Autism Spectrum Disorder bahkan mulai memperlihatkan simtom pada usia 2 tahun.

Berdasarkan data yang diperoleh WHO, 1 dari 160 anak di dunia mengidap Autism Spectrum Disorder. Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini, jumlah anak di Indonesia yang mengidap Autism Spectrum Disorder belum diketahui secara pasti, tetapi dapat diperkirakan bahwa terdapat 2,4 juta individu di Indonesia dengan Autism Spectrum Disorder saat ini dengan pertambahan jumlah sebanyak 500 orang/tahun. Nah, berdasarkan fakta-fakta tersebut, masa kanak-kanak menjadi masa yang sangat penting untuk mendeteksi ada atau tidaknya simtom-simtom Autism Spectrum Disorder, nih, Socconians. Masa kanak-kanak di sini mengacu pada keadaan dan kondisi seorang anak ketika simtom autisme ini muncul, dan krusialnya dipahami segera agar mampu memberikan penanganan yang tepat sejak dini.

Setelah mengetahui pengertian autisme, selanjutnya kita perlu mengenali simtom-simtom autisme. Berikut penjabaran mengenai simtom Autism Spectrum Disorder berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5.

  1. Individu dengan simtom autisme akan mengalami kesulitan untuk memulai suatu percakapan, banyak tidak memahami perkataan orang lain dan kerap tidak mau berbicara dengan orang lain.
  2. Individu dengan simtom autisme memiliki kelainan pada gerakan tubuh, kontak mata dan ekspresi wajah yang cenderung datar, dan sulit melakukan kontak mata yang fokus dengan orang lain.
  3. Individu dengan simtom autisme juga sulit membangun hubungan dengan orang lain, dan kerap bermain sendiri.
  4. Individu dengan simtom autisme cenderung memiliki pola tingkah laku yang repetitif (berulang). Contoh: mengucapkan kata atau frasa yang berulang, melakukan suatu gerakan yang dilakukan terus menerus dan berulang.
  5. Individu dengan simtom autisme cenderung menjalani hidup dengan rutinitas yang sama. Bagi pengidap autisme, perubahan dalam jadwal membuatnya sangat geram. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru.
  6. Individu dengan simtom autisme memiliki minat yang sangat intens terhadap beberapa objek tertentu. Contoh: tertarik dengan segala hal yang bisa diputar, roda, kipas angin, dll.
  7. Anak dengan simtom autisme memiliki panca indera yang cenderung drastis rendah atau drastis tinggi terhadap stimulasi dari lingkungan. Contoh: Menangis ketika bersentuhan dengan bulu, berdarah namun tidak merasakan sakit, dll.

Nah, seperti itulah simtom-simtom autisme. Ingat, sebaiknya kita tidak melakukan diagnosis sendiri mengenai simtom yang terlihat, ya, Socconians. Apabila terdapat keponakan atau adik-adik kecil yang Socconians kenal dan menunjukkan simtom yang serupa, disarankan untuk langsung melakukan konsultasi dengan tenaga profesional untuk melihat tahap kembang individu dan memberikan stimulasi dan penanganan yang tepat. Selain itu, hal lain yang dapat kita lakukan selanjutnya adalah dengan berusaha memahami, terus mendukung, dan mampu menerima Individu dengan simtom autisme. Apabila hal tersebut mampu dilakukan, maka pertumbuhan seorang anak dapat menjadi lebih optimal, loh, Socconians! Nah, yuk Socconians, sebagai orang yang memiliki bekal mengenai gangguan autisme, mari kita bersama-sama bersatu untuk meningkatkan kesadaran lingkungan terhadap gangguan autisme dan lebih peka terhadap sesama kita!

Referensi

Penulis : Tsana Afrani dan Nathania Bianca (Co-writer)

Editor-in-Chief : Kabrina Rian dan Hafiza Dina Islamy

Editor Medis : Grace Eugenia Sameve, M.A, M.Psi, Psikolog

Sumber Tulisan :

  1. Tim Penulis Alodokter. (2018). “simtom Autisme”. Diakses pada 27 Juli 2019 dari website Alodokter.
  2. Tim Penulis Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2018). “Hari Peduli Autisme Sedunia: Kenali simtomnya, Pahami Keadaannya”. Diakses pada 26 Juli 2019 dari website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
  3. Tim Penulis Psychology Today. (2019). “Autism Spectrum Disorder”. Diakses pada 27 Juli 2019 dari website Psychology Today.
  4. Tim Penulis UNICEF. (2019). “Childhood Defined”. Diakses pada 27 Juli 2019 dari website UNICEF.
  5. Tim Penulis World Health Organization. (2018). “Autism Spectrum Disorder”. Diakses pada 27 Juli 2019 dari website World Health Organization.

Artikel Lainnya!

14 Aug

4 Cara untuk Meningkatkan Self-Image Kita

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Self-image adalah bagaimana kita melihat diri kita sendiri secara baik atau buruk. Jika kita seringkali membanding-bandingkan diri kita dan membentuk sebuah pemikiran, “Kalau kita tidak sukses (seperti yang lain), kita tidak berharga”. Alhasil, self-image kita akan merosot. Berikut empat cara untuk meningkatkan self-image kita!

Read More
12 Aug

Meningkatkan Kualitas Hubungan: Know Yourself Better

by Michelle Adi Nugraha, S. Psi.

Apakah Socconians sudah mengenali diri kalian lebih baik? Dengan mengenali diri kita sendiri, kita bisa meningkatkan kualitas hubungan kita dengan diri kita sendiri, lho! Selayaknya ketika kita ingin berkenalan dengan orang lain, mengenali diri kita sendiri menggunakan pendekatan yang serupa.

Read More
10 Aug

Mengetahui Lebih Banyak Tentang Toxic Relationship

by Rizka Siti Nur Rachmawati, S.Psi

Socconians pernah dengar apa itu toxic relationship? Saat ini tidak jarang ditemui bahwa apa yang kita anggap tidak sehat belum tentu orang lain juga akan sependapat. Ada beberapa hal dasar yang perlu sama-sama Socconians ketahui tentang tanda-tanda hubungan toxic relationship. Yuk, simak selengkapnya di artikel berikut ini!

Read More

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.