Tantangan Sosio-emosional Anak Disleksia

Halo, Socconians!

Setiap anak yang mengalami disleksia ketika di sekolah tentunya memiliki berbagai macam tantangan. Ada yang sulit menerima pelajaran, susah bergaul, atau sulit untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka. Seorang anak yang mengalami disleksia memiliki tantangan yang jauh lebih besar dibandingkan anak-anak non-disleksia lainnya. Tidak hanya sekedar tantangan dalam bidang akademis, tetapi mereka juga rentan terhadap tantangan emosional atau psikis. Tantangan emosional dan psikis ini dapat berdampak pada timbulnya kecemasan atau bahkan depresi.

Emosi yang negatif pada anak dengan disleksia memiliki efek stres dan perasaan ketidakberdayaan yang berkepanjangan. Gangguan emosional tersebut dapat menyebabkan anak dengan disleksia kurang memiliki self-esteem atau rendahnya kepercayaan diri. Gangguan ini juga bisa berdampak pada rendahnya motivasi, malas, atau bahkan menentang. Tantangan emosional pada anak dengan disleksia tentunya juga dapat menghambat proses tumbuh kembang anak tersebut dalam bidang akademik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rollins, diprediksi hanya sekitar 5-17% siswa disleksia yang akan berhasil dalam akademik. Maka dari itu, penting bagi orang tua atau guru untuk memahami emosi negatif akibat dari konsep diri yang rendah pada anak dengan disleksia ini.


Selain itu, tidak dimungkiri bahwa seorang anak yang mengalami disleksia juga rentan menerima pressure atau tekanan dari luar, seperti diejek atau dikucilkan. Tekanan tersebut nantinya dapat berdampak negatif pada kemampuan kognitif dan sosial mereka. Untuk menghadapi tantangan sosial yang dialami oleh siswa penderita disleksia, penting bagi pendidik untuk memahami tentang konsep kepercayaan diri, dan menerapkan strategi pengajaran yang efektif untuk meningkatkan harga diri mereka. Saat kepercayaan diri seorang anak disleksia meningkat, secara tidak langsung akan berdampak pada performa akademik mereka.


Pendidik, orang tua, atau guru, yang mengajar penderita disleksia perlu memperhatikan bagaimana kebutuhan pendidikan setiap anak. Pada hakikatnya terdapat perbedaan dari cara mendidik seorang penderita disleksia dengan anak umum lainnya. Sangat penting untuk melihat anak dengan disleksia sebagai pribadi yang utuh dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Meskipun seorang anak disleksia terlihat memiliki kekurangan, apabila kita mengenali lebih dekat, mereka memiliki kemampuan visual dan artistik yang baik.


Agar anak yang mengalami disleksia tetap bertahan di lingkungan sosialnya dan juga tetap mempertahankan kepercayaan diri (emosional), penting bagi pendidik untuk memberikan pemahaman dan penjelasan. Anak dengan disleksia perlu diingatkan bahwa mereka sesungguhnya memiliki banyak bakat dan keterampilan. Kemampuan mereka tidak bisa atau tidak boleh diukur murni berdasarkan kesulitan mereka dalam keterampilan sosial.


Nah, dari narasi di atas kita pun tahu bahwa anak dengan disleksia dapat mengalami tekanan dari berbagai macam hal, seperti akademik, sosial, hingga emosional. Untuk lebih jelas bagaimana cara mendidik anak disleksia, Socconians bisa baca postingan Social Connect yang lain, ya. Sebagai penutup, perlu Socconians ingat bahwa penderita disleksia sama seperti anak-anak pada umumnya. Mereka sama-sama sedang berkembangan dalam tantangan belajar. Dampingi dan saling menjaga kesehatan mental satu sama lain, ya!


Tim Penulis

Yoga Prasetyo, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.

Tim Editor

Finda Rhosyana dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Ayu Siantoro, MSc


Sumber Tulisan

  1. California Dyslexia Guidelines. Chapter 5: Socioemotional Factors of Dyslexia. 2017. California. Diakses melalui websie cde.ca.gov pada 1 Februari 2020

  2. Cassar, D. Dyslexia and Self-Esteem of the Child. (n.d). Diakses melalui website willingness pada 1 Februari 2020

  3. Rollins, A., Oslund., E. L., Wallace, K., Li, D. 2018. Statistical methods and reporting practices in the study of dyslexia.. Diakses melalui onlinelibrary.wiley.com pada 31 Maret 2020.

  4. Steffert, B., & Steffert, T. (n.d.). Dyslexia and Creativity. Diakses melalui www.learningrecovery.co.uk pada 31 Maret 2020.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon