Peran Keluarga dalam Menangani Stres pada Remaja

Hi, Socconians!

Stres merupakan suatu masalah kesehatan mental yang sangat akrab di telinga kita. Stres tidak hanya dapat dialami oleh orang dewasa, tetapi juga dapat dialami oleh remaja loh, Socconians.



Faktanya, terdapat 45% remaja yang mengakui mengalami stres dengan bebe. Beberapa penyebab stres pada remaja antara lain tekanan dari kegiatan akademik, hubungan sosial dan keluarga, serta merasa tidak mempunyai waktu yang cukup. Jika dibiarkan, stres pada remaja tidak hanya akan mempengaruhi kondisi mental penderitanya, tapi juga dapat mempengaruhi kondisi fisik penderitanya loh, Socconians. Salah satu dampak stres terhadap kondisi fisik penderitanya adalah menurunnya sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk mengenali gejala stres pada remaja, seperti jadwal makan dan tidur yang berantakan, menjadi lebih emosional, dan kebiasaan lebih sering menyendiri. Tidak hanya mengenali gejalanya, penting juga bagi keluarga untuk memberikan dukungan bagi remaja yang sedang mengalami stres. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk menangani stres pada remaja. Yuk, kita simak!


  1. Penting bagi kita untuk membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga, termasuk orang tua dan anak. Orang tua harus berdiskusi dengan anak terkait ekspektasi dan tujuan atau target yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, penting bagi orang tua untuk menanyakan perasaan, pemikiran, dan keinginan sang anak ketika sedang berdiskusi.

  2. Bukan hanya membangun komunikasi, tetapi juga siap untuk mendengarkan. Pastikan orang tua betul-betul mendengarkan keluh kesah yang disampaikan oleh anak dengan cara tidak menghakimi, menggurui, atau menyalahkan mereka.

  3. Keluarga juga harus menunjukkan kepeduliannya pada si remaja. Kepedulian tersebut dapat ditunjukkan secara langsung melalui penerimaan dan dukungan. Perlu dipastikan, bahwa remaja tahu mereka memiliki keluarga yang memedulikan mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk meluangkan waktu bagi anak, sehingga anak dapat merasakan bahwa orang tuanya selalu ada untuk mereka.

  4. Keluarga dapat mengajarkan pada remaja untuk memiliki ekspektasi yang realistis. Kegagalan merupakan suatu hal yang lumrah. Remaja dapat belajar banyak dan bertumbuh menjadi lebih dewasa melalui kegagalan itu. Keluarga perlu menanamkan pemikiran bahwa kegagalan bukan sesuatu yang menyeramkan dan harus dihindari.

  5. Terakhir, keluarga juga harus menciptakan suasana rumah yang tenang dan aman. Suasana aman di rumah yang dirasakan oleh anak dapat mengurangi stres yang ia rasakan. Sebaliknya, apabila suasana di rumah penuh dengan bentakan atau pertengkaran, anak malah akan semakin bertambah stres.

Seiring bertambah dewasanya seseorang, akan terjadi perubahan pada cara berinteraksi antara anak dengan orang tua. Ketika anak masih kecil, keluarga berperan dalam membimbing anak tersebut. Sementara, ketika anak mulai beranjak remaja, peranan keluarga sudah berubah menjadi teman diskusi. Keluarga akan tetap dan selalu menjadi tempat yang mereka tuju ketika mereka membutuhkan kasih sayang dan dukungan. Semoga tips dari Social Connect dapat membantu kamu ya, Socconians. Semoga keluarga kamu sehat dan sejahtera selalu.


Ditulis oleh Annetta Carolina dan direvisi oleh Andy.

Diedit oleh Zimi, Astuti Setyawardani, dan Agnes.

Di-review oleh Emha Nelwan Lawani D. L., S.Psi dan Keisha Alika Lie, BPsychSc.


Sumber Tulisan

  1. Anindyaputri, Irene. (2017). “9 Hal yang Bisa Anda Lakukan Jika Si Kecil Dilanda Stres”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Hello Sehat.

  2. Tim Penulis Bradley Hospital. (2019). “Managing Stress in Teens and Adolescents: A Guide for Parents”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Bradley Hospital.

  3. Tim Penulis Raising Children Network. (2018). “Relationships with Parents and Families: Why Teenagers Need Them. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Raising Children Network.

  4. Tim Penulis ReachOut Parents. (2019). “Stress and Teenagers. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website ReachOut Parents.

  5. Villanueva, Sara. (2015). “Teenage Stress”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Psychology Today.

153 views

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon