Mengenal Mereka yang Terganggu Factitious Disorder

Halo, Socconians!

Pernahkah kalian mendengar gangguan psikologis Factitious Disorder? Factitious Disorder disebut juga gangguan buatan. Gangguan ini merujuk pada kondisi seseorang yang secara sadar memperlihatkan gejala bahwa ia menderita suatu penyakit fisik atau psikis, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar sakit. Gimana ya cara kita mengenali mereka?


Secara umum gangguan Factitious Disorder dibagi menjadi dua golongan besar, pertama, golongan yang didominasi oleh gejala psikis dan, kedua, golongan yang didominasi oleh gejala fisik. Gangguan yang dominan pada gejala psikis kadang disertai dengan munculnya keinginan bunuh diri, depresi, kehilangan sebagian ingatan, pengalaman halusinasi, dan berbagai gejala psikis lain yang biasanya saling bertolak belakang. Sementara itu, gangguan yang didominasi gejala fisik biasanya ditandai adanya keinginan untuk mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit. Akan tetapi, saat akan dilakukan tindakan medis tertentu, biasanya orang dengan Factitious Disorder tidak bersikap kooperatif. Selain dua golongan besar, ada juga golongan ketiga atau golongan kombinasi antara gejala fisik dan psikis.


Penderita Factitious Disorder cenderung ingin menerima afeksi dan cinta dari orang lain. Hal tersebutlah yang menyebabkan mereka dapat berperilaku sedemikian rupa untuk mendapat perhatian. Penderita Factitious Disorder biasanya merasa bahwa mereka dapat lebih bermakna saat menjadi seorang penderita sakit yang memperoleh perawatan dari tenaga kesehatan sehingga mereka pun cenderung terus-menerus bersikap seolah-olah sakit dan menjalankan peran sakitnya guna mendapat perhatian. Factitious disorder yg merupakan gangguan psikologis & malingering yg bukan gangguan psikologis melainkan termasuk fraud. Bedanya terletak pada motif fabrikasi penyakit. Penderita factitious disorder pura-pura sakit karena benar-benar ingin menjadi orang sakit, sehingga mendapat perhatian, dan lainya. Sementara malingering tidak ingin menjadi sakit, namun pura-pura sakit untuk keuntungan2 seperti klaim asuransi, izin bolos kerja, dan lainnya.


Terdapat beberapa gejala pada penderita Factitious Disorder, yaitu inkonsistensi cerita pasien dengan observasi medis; detail samar-samar namun terdengar masuk akal; rekam medis yang panjang dengan banyaknya riwayat administrasi di rumah sakit berbeda; kerelaan untuk menerima prosedur medis yang menyakitkan dan membuat tidak nyaman dan beresiko; serta penjelasan yang berlebihan dan seperti didramatisir tentang penyakitnya.


Diagnosis Factitious Disorder yang meyakinkan sangat jarang ditemukan. Akan tetapi, ketika diagnosis telah dibuat, biasanya prosedur medis lengkap akan dilakukan untuk mendapatkan jawaban akan penyebab organik penyakit pasien. Bila Socconians menemukan kerabat yang mungkin terindikasi mengidap Factitious Disorder, maka pergilah ke para profesional, baik seorang psikolog maupun psikiater, lalu konsultasikanlah terlebih dahulu untuk mencari validasi yang dapat dipertanggungjawabkan.


Tim Penulis

Yosua Pirera, Muhammad Fachrizal Helmi, dan Sepriandi.

Tim Editor

Muhammad Azimi.


Review Medis

Ayu Siantoro, MSc

Sumber Tulisan

  1. Pitawati, D., & Fatmawati, K. J. R. Factitious Disorder (Gangguan Buatan) Dengan Gejala Menyerupai Myasthenia Gravis.

  2. Satiadarma, M.P. 2002. pura-pura Sakit untuk Mencari Simpati (Sindroma Munchausen): Sebuah Kajian Psikologis. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.

  3. Jaghab, K., Skodnek, K. B., & Padder, T. A. (2006). Munchausen's Syndrome and Other Factitious Disorders in Children: Case Series and Literature Review Psychiatry (Edgmont (Pa. : Township)), 3(3), 46-55.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon