Mendiagnosis Penyakit yang Sulit Dideteksi

Hai, Socconians!

Apakah kalian pernah menemui seorang dokter, perawat, psikolog, atau psikiater yang kesulitan membuat diagnosis pada pasiennya? Biasanya, mereka akan mengalami kesulitan untuk mendiagnosis pasien yang menderita factitious disorder.

Orang dengan factitious disorder memiliki kebiasaan memfabrikasi kondisi atau gejala fisik dan psikologis pada diri mereka. Factitious disorder merupakan gangguan psikologis yang membuat penderitanya selalu ingin menjadi orang sakit. Salah satu cerita tersohor adalah kisah Gypsy Rose Blanchard yang hidup bersama ibunya Dee Dee Blanchard. Dee Dee mengatakan bahwa Gypsy menderita berbagai macam penyakit dan terkena intervensi medis, aksi Dee Dee dilihat sebagai gangguan factitious disorder karena dia ingin menjadi pengasuh untuk Gypsy. Namun, cerita hidup[ Gypsy dan Dee Dee berakhir tragis ketika putrinya mengatur pembunuhan untuk Dee Dee pada tahun 2015. Jadi apa factitious disorder itu? Yuk, simak penjelasan detailnya di bawah ini, ya.


Awalnya, gangguan ini disebut sebagai Munchausen’s Syndrome. Kemudian, digunakan istilah factitious disorder untuk gangguan tersebut. Prevalensi factitious disorder sendiri tergolong sangat kecil, yaitu 0.6-3.0%. Walau begitu, factitious disorder termasuk gangguan yang tingkat diagnosanya dianggap kurang dari kenyataan yang sesungguhnya (underdiagnose). Orang yang memiliki factitious disorder secara sadar memalsukan kondisi tubuh atau psikologis mereka. Meskipun demikian, mereka juga sering kali tidak menyadari alasan melakukan tindakan tersebut. Faktor yang mengakibatkan seseorang bisa menderita factitious disorder beragam. Beberapa di antaranya adalah trauma masa kecil, depresi,dan gangguan kepribadian (personality disorder).


Para profesional seperti dokter, perawat, psikolog, dan psikiater menyatakan sering mengalami kesulitan untuk mendeteksi gangguan factitious disorder. Kesulitan pemeriksaan terhadap pasien dengan factitious disorder disebabkan oleh kecenderungan pasien untuk merekayasa kondisinya sendiri. Akibatnya, para profesional akan sulit mengumpulkan data medis pasien tersebut.


Saat pemeriksaan, biasanya penderita factitious disorder akan mengemukakan apa yang dirasakannya, yaitu gejala sakit fisik atau psikis, secara berlebihan. Mereka cenderung menyampaikan gejala sakit dengan begitu dramatis. Akan tetapi, ketika terus didalami, biasanya akan ditemukan berbagai inkonsistensi dalam pernyataan yang disampaikan oleh penderita factitious disorder. Penderita factitious disorder akan merajut kisahnya sedemikian rupa untuk meyakinkan pemeriksa bahwa si empunya kisah benar-benar sedang mengalami rasa sakit. Saat pemeriksa yakin bahwa mereka benar-benar sakit, orang dengan factitious disorder akan senang karena merasa mendapat perhatian.


Metode yang digunakan untuk menyembuhkan factitious disorder adalah melalui penanganan psikiatris. Selain itu, metode konfrontasi juga bisa dilakukan kepada pasien. Beberapa hal yang harus disiapkan sebelum melakukan konfrontasi adalah pengumpulan bukti dari contoh-contoh fabrikasi yang pernah dilakukan pasien, konsultasi dengan psikiater, bersiap untuk diskusi dengan dokter utama pasien tersebut, dan mendokumentasikan semua hasil pertemuan baik dengan pasien atau dengan dokter.


Nah Socconians, kalau kalian menemukan teman, keluarga, sahabat, atau orang terdekat yang memiliki ciri-ciri seperti seorang penderita factitious disorder, segeralah sarankan mereka untuk meminta bantuan profesional, ya.


Tim Penulis

Mutia, Muhammad Fachrizal Helmi, dan Sepriandi.


Tim Editor

Muhammad Azimi.


Review Medis

Ayu Siantoro, MSc


Sumber Tulisan

  1. Asher, R. (1951). MUNCHAUSEN'S SYNDROME. The Lancet, 257(6650), pp.339-341.

  2. Bass, C. and Halligan, P. (2014). factitious disorders and malingering: challenges for clinical assessment and management. The Lancet, 383(9926), pp.1422-1432.

  3. Caselli, I., Poloni, N., Ceccon, F., Ielmini, M., Merlo, B. and Callegari, C. (2018). A Systematic Review on factitious disorders: Psychopathology and Diagnostic Classification. Neuropsychiatry, 08(01), pp.281-292.

  4. Taylor, S. and Hyler, S. (1993). Update on factitious disorders. The International Journal of Psychiatry in Medicine, 23(1), pp.81-94.

  5. Zeshan, M., Cheema, R. and Manocha, P. (2018). Challenges in Diagnosing factitious disorder. American Journal of Psychiatry Residents' Journal, 13(9), pp.6-8.

  6. Satiadarma, M.P. 2002. pura-pura Sakit untuk Mencari Simpati (Sindroma Munchausen): Sebuah Kajian Psikologis. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor.

  7. Sara Kettler. 2020. The Story of Gypsy Rose Blanchard and Her Mother. Diakses dari laman web Biography pada tanggal 23 Februari 2020.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon