Media Bermain untuk Anak dengan Disleksia

Updated: May 4

Halo, Socconians!

Istilah disleksia mungkin sudah sering terdengar di telinga kamu. Bahkan mungkin juga pernah bersinggungan atau berkomunikasi dengan orang-orang dengan disleksia di sekitarmu. Namun, tahukah Socconians apa sebenarnya disleksia itu? Tahukah kamu anak-anak juga kerap mengalami kondisi ini? Nah, secara garis besar, disleksia dapat diartikan sebagai gangguan pada kemampuan membaca dan mengolah informasi.

Para ahli juga masih berdebat tentang penyebabnya dan belum mendapatkan kesimpulan bulat yang disepakati bersama. Namun, yang perlu kita pahami adalah disleksia itu bukanlah penyakit. Disleksia adalah neurodevelopmental disorder atau gangguan saraf yang menyebabkan kesulitan menulis dan mengolah informasi. Rata-rata 10% dari jumlah anak-anak yang ada saat ini mengalami kesulitan membaca akibat disleksia.


Lalu, apa saja ciri-ciri atau gejala yang dapat kita amati apabila seorang anak memiliki disleksia? Secara umum, sebagian besar anak-anak mengawali proses belajar membaca dengan mempelajari bagaimana suara dari sebuah ucapan dapat membentuk kata-kata (phonemic awareness). Kemudian mereka menghubungkan suara-suara atau ucapan tadi ke dalam susunan huruf alfabet (phonics).


Setelah terbentuk dua kombinasi tadi, mereka belajar bagaimana memadukan suara-suara itu menjadi kata-kata, dan akhirnya mereka dapat mengenali kata-kata tersebut. Selain itu, mereka juga sangat bergantung pada intensitas menemui suatu bentuk kata atau ucapan berkali-kali sebelumnya. Terdapat beberapa tanda atau gejala disleksia pada anak yang dapat kita lihat.


Misalnya anak-anak dengan disleksia di usia sekolah dasar biasanya mengalami kesulitan ketika belajar berbicara dan mengucapkan kata-kata yang panjang, belajar nama dan suara huruf, belajar membaca dan menulis namanya, atau mengucapkan kata-kata sederhana. Selain itu, di tahap yang lebih lanjut anak dengan disleksia juga mengalami kesulitan dalam hal mempelajari urutan alfabet, hari dalam seminggu, warna, bentuk, dan juga angka.


Pertanyaan setelah mengetahui beberapa gejala dan tanda-tanda anak mengalami disleksia adalah, apa yang harus kita lakukan untuk memberikan bantuan pertama pada tahap awal? Jawabannya adalah berikan mereka perhatian lebih awal. Disleksia atau masalah pada kemampuan membaca ini sering dianggap sebagai ketidakmampuan belajar yang paling umum dan sering terjadi pada anak-anak. Sehingga masyarakat pada umumnya sering menganggap ini hal biasa.


Anak-anak dengan disleksia, jarang didiagnosis atau dibimbing secara profesional oleh para ahli sehingga terlambat dalam pemulihan terapis yang jauh relatif lebih muda. Nah, setelah mengenali gejala dan tanda-tandanya, untuk melakukan pertolongan awal kepada anak-anak dengan disleksia, ada beberapa games atau media bermain yang dapat digunakan. Media bermain ini dapat digunakan untuk membantu mereka mengatasi masalah dalam membaca dan juga mengolah informasi dengan benar dan terstruktur. Apa saja media bermain tersebut?


Dinding kata

Permainan ini termasuk yang paling mudah diakses. Selain tidak membutuhkan banyak peralatan pendukung, game ini juga dapat dimodifikasi sesuai dengan kesulitan si anak. Pertama-tama, kamu bisa mencoba menuliskan beberapa kata preposisi seperti “dari”, “di”, “pada”, atau “ke”. Tulis satu kata pada satu bidang kertas yang memiliki warna berbeda satu sama lain. Setelah itu, kamu bisa coba letakkan pada dinding di tempat favorit si anak seperti ruang tengah, ruang keluarga, atau kamar si anak. Dengan media bermain ini, si anak akan terbiasa melihat dinding kata tersebut dan secara tidak sadar akan membuatnya paham perbedaan penggunaan dari tiap kata yang kamu tulis di kertas berwarna tadi. Pada akhirnya, diharapkan media ini mampu membuat si anak lancar membaca. Oh ya, kamu juga bisa menyesuaikan isi dari kata-katanya dengan kesulitan yang dialami si anak. Hal ini akan membantu mereka meningkatkan kepercayaan diri juga.


Balok huruf

Media bermain ini tidak jauh beda fungsi dan cara penggunaannya dengan dinding kata. Namun, pada media ini, anak akan jauh lebih dilibatkan. Selain karena medianya yang berbentuk tiga dimensi dan lebih menarik bagi anak, media ini juga baik untuk melatih saraf motoriknya ikut serta dalam menanggulangi disleksia. Kamu bisa menyusun beberapa kata yang biasanya sulit disebutkan oleh anak dengan disleksia seperti “kaku” dan “kuku”. Ajak mereka menyusun kata-kata tersebut dan mengejanya dengan keras (read aloud).


Video games

Selain media bermain dalam bentuk dua atau tiga dimensi di atas, anak dengan disleksia juga dapat diajak bermain video games. Video games (terutama action video games) memiliki beberapa aspek seperti unsur visual, suara, dan kombinasi warna yang dapat membantu sang anak mengenali banyak suku kata. Penelitian telah menemukan perhatian, visual dapat menjadi penting untuk belajar dan membantu pemrosesan ortografi secara independen dari pengetahuan bahasa.

Pentingnya perhatian visual dan faktor-faktor fonologis dapat bervariasi antar bahasa-bahasa yang ada di dunia berdasarkan tingkat transparansi ortografis mereka. Untuk membantu mereka dengan lebih efektif, beri pilihan video games yang menggunakan bahasa ibu (dalam konteks ini bahasa Indonesia) agar mereka dapat lebih cepat beradaptasi dan mengatasi masalah dalam belajar menulis atau membaca. Selain seru, bermain video games dengan anak juga dapat merekatkan hubungan dengan si anak.


Aplikasi gawai

Di era digital ini, smartphone telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Nah, Socconians juga bisa memanfaatkan smartphone untuk membantu anak dengan disleksia, lho! Beberapa saat lalu, sejumlah mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, berhasil menciptakan aplikasi di smartphone dengan platform Android, yang dapat membantu anak-anak dengan disleksia. Di aplikasi bernama LexiPal ini terdapat 78 macam model rancangan permainan anak yang terbagi ke dalam 12 kategori berbeda. Contohnya, ada kategori yang dapat membantu anak dengan disleksia belajar menggunakan garis atau pola warna, pengenalan pada huruf, dan suku kata, hingga game dengan format petualangan. Di tahap lebih lanjut, aplikasi ini pun memiliki permainan dengan ekspresi wajah orang yang sedang marah, sedih, atau senang.


Nah, empat permainan tersebut dapat menjadi pilihan bagi kamu untuk membantu anak-anak dengan disleksia. Hanya saja, tetap butuh konsistensi dan pendampingan yang intens untuk membantu anak-anak tersebut mengatasi masalah disleksia mereka masing-masing. Jadi, media bermain mana yang akan kamu gunakan untuk bermain bersama teman-teman disleksia, Socconians?


Tim Penulis

Hanif Abdul, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.


Tim Editor

Finda Rhosyana dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Mozes Touw, M.Psi., Psikolog


Sumber Tulisan

  1. Tim Penulis Halodoc. (2017). “Latihan Ini Dapat Membantu Anak Disleksia Lancar Membaca”. Diakses dari laman website halodoc.com pada 18 Januari 2020.

  2. Sandro, Francheschini. et al. (2013). “Action Video Games Make Dyslexic Children Read Better”. Diakses dari laman website reader.elsevier.com pada 18 Januari 2020.

  3. Tim Penulis Kidshealth. (2018). “Understanding Dyslexia”. Diakses dari laman website kidshealth.org pada 19 Januari 2020.

  4. Kelly, Johnson, MA. (2014). “12 Tips to Help Kids With Dyslexia Learn Sight Words”. Diakses dari laman website understood.org pada 19 Januari 2020.

  5. Addi, Mawahibun, Idhom. (2014). “Mahasiswa UGM Bikin Game untuk Anak Disleksia”. Diakses dari laman website tempo.co pada 19 Januari 2020.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon