Fenomena Hikikomori dan Faktor Penyebabnya

Konnichiwa, Socconians!

Kamu tentunya sudah tidak asing lagi bukan dengan negara Jepang yang terkenal dengan sebutan Negeri Matahari Terbit? Nah, kali ini Social Connect akan membahas mengenai wabah hikikomori yang tengah viral pada kelompok usia produktif di Jepang.

Menilik dari definisinya, hikikomori adalah fenomena anti-sosial dan sindrom pengisolasian diri yang menyebabkan kalangan pemuda kesulitan menjalankan aktivitas dalam dunia kerja atau menempuh studi, menganggur, dan tidak mengalami kontak sosial kecuali dengan keluarga selama kurang lebih 6 bulan.


Berdasarkan pantauan data dari WHO (World Health Organization) pada tahun 2011, Jepang menjadi salah satu negara yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi menembus angka lebih dari 30.000 kasus. Namun, pada tahun 2016 angka praktik bunuh diri mengalami penurunan terendah sepanjang 22 tahun menjadi 21.897 kasus.


Mirisnya, sekalipun mengalami penurunan jumlah kasus selama periode 3 tahun terakhir (2016--2018), angka bunuh diri dikalangan anak muda Jepang tergolong tinggi. Sebanyak 250 orang anak-anak berusia sekolah dasar hingga menengah memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kasus ini menjadi fenomenal yang kemudian disebut dengan hikikomori.


Seperti yang telah disebutkan, kalangan yang menjadi sorotan utama dari wabah ini adalah pemuda yang baru saja lulus dari sekolah atau perguruan tinggi maupun mereka yang gagal menyelesaikan masa studi & berakhir menjadi seorang pengangguran. Kegagalan dalam mencapai ekspektasi tinggi di lingkungan sosial, memicu depresi & berujung pada bunuh diri. Berikut merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya hikikomori:


Penerapan sistem pendidikan yang mementingkan sisi kognitif

Baik sekolah maupun orang tua di Jepang mendefinisikan keberhasilan siswa lewat capaian secara akademik. Jika seorang siswa mendapat hasil di bawah standar yang ditetapkan maka ia dinyatakan gagal.


Revolusi teknologi & budaya anime di Jepang

Perkembangan internet yang merajalela secara praktis mengubah pola komunikasi seseorang melalui gadget. Terlebih inovasi aplikasi & game online yang sedang gencar terjadi menjadikan seseorang lebih nyaman untuk beraktivitas melalui ranah dunia maya. Selain itu, kultur anime yang kental di Jepang bersifat adiktif sehingga mempengaruhi orang untuk mengisolasikan diri dengan mengonsumsi serial anime tersebut secara terus menerus.


Kekerasan yang dialami pemuda Jepang

Kekerasan dapat berupa kekerasan secara fisik maupun verbal. Baik itu dilakukan di dalam keluarga, teman sebaya, rekan kerja dan sejenisnya.


Persaingan ketat di dunia kerja

Untuk meraih posisi yang mumpuni di dunia kerja dibutuhkan pula kemampuan interpersonal yang baik & daya banting yang kuat dalam menghadapi suatu permasalahan. Namun, jika seseorang mengalami kegagalan pada kemampuan tersebut, ia dapat melakukan isolasi terhadap dirinya demi mempertahankan opini positif orang lain kepadanya.


Faktor-faktor di atas secara umum juga kerap kita temui dalam kehidupan sehari-hari ya, Socconians. Terutama bagi para mahasiswa fresh graduates yang sedang berjuang melamar pekerjaan di perusahaan yang diinginkan. Tapi saat sedang putus asa jangan sampai melarikan diri ke hikikomori ya. Because your mental health is more precious than those toxic words!


Tim Penulis

Amanda Celine dan Sepriandi.


Tim Editor

Zul dan Muhammad Azimi.


Review Medis

dr. Belinda Julivia Murtani, MRes dan Emha Nelwan Lawani D. L., S.Psi


Sumber Tulisan

  1. Suwa, M. dan K. Suzuki. 2013. The Phenomenon of “hikikomori” (social withdrawal) and the socio-cultural situation in Japan today. Diakses dari Journal of Psychopathology pada tanggal 13 Januari 2019.

  2. Tim Penulis Kompas.com. 2017. Jepang Catat Rekor Bunuh Diri Tertinggi di Dunia, Simak Datanya. Diakses dari situs web Kompas pada tanggal 17 Januari 2019.

  3. Tim Penulis The Japan Times. 2017. Suicides down, but Japan still second highest among major industrialized nations, report says. Diakses dari situs web The Japan Times pada tanggal 17 Januari 2019.

  4. Tim Penulis The New York Times. 2018. Suicides Among Japanese Children Reach Highest Level in 3 Decades. Diakses dari situs web The New York Times pada tanggal 17 Januari 2019.

  5. Yong, R. dan Y. Kaneko. 2016. Hikikomori, a Phenomenon of Social Withdrawal and Isolation in Young Adults Marked by an Anomic Response to Coping Difficulties: A Qualitative Study Exploring Individual Experiences from First- and Second-Person Perspectives. Diakses dari situs web Scientific Research pada tanggal 18 Februari 2019.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon