Dukungan Emosional: Cara Terbaik untuk Mendukung Anak Disleksia

Halo, Socconians!

Disleksia merupakan sebuah kondisi yang membuat penderitanya terganggu dalam proses belajar, ditandai dengan adanya kesulitan membaca, menulis, dan mengeja. Secara spesifik, orang yang mengidap disleksia mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan dan mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. Kondisi ini tidak hanya menghambat proses belajar anak, tapi juga proses sosialisasinya. Anak dengan disleksia biasanya memiliki kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya, terutama dengan teman bermain di sekolah.

Menurut Direktur Eksekutif dari Winston Preparatory School, Scott Bezsylko, yang juga merupakan ahli anak-anak dengan gangguan belajar (learning disorders) mengatakan bahwa disleksia dapat memberi dampak sosial. Selain kesulitan membaca dan menulis, anak dengan disleksia sering kali merasa gagal dan tidak berharga. Anak-anak ini akan sangat rentan terhadap munculnya rasa frustasi dan malu pada ketidakmampuan mereka dalam belajar membaca. Oleh karenanya, dibutuhkan dukungan yang luar biasa bagi anak dengan disleksia.


Berikut adalah beberapa cara untuk mendukung anak dengan disleksia:

  1. Dukung mereka dalam kegiatan yang mereka sukai, seperti olahraga, musik, atau seni. Bantulah mereka untuk membangun kepercayaan dirinya. Tentunya hal ini membutuhkan waktu dan proses, sehingga dibutuhkan komitmen dan konsistensi.

  2. Rutin berdiskusi dengan anak. Sebagai orang tua, sebaiknya rutin untuk membangun komunikasi dengan anak, misalnya tentang apa itu disleksia, apa saja tantangannya, dan apa saja hal-hal yang perlu dilakukan dalam menghadapinya. Bantu anak untuk lebih memahami kondisi dirinya. Jangan lupa juga untuk membangun komunikasi dua arah. Dengarkan pendapat anak dan pahami apa yang mereka rasakan, khususnya mengenai lingkungan serta kondisi mereka di sekolah.

  3. Hargai setiap usahanya. Berikan pengakuan atas usaha anak dan hargai setiap tindakan kecil yang berhasil mereka lakukan, bahkan jika mereka melakukan kesalahan sekalipun. Jangan ragu untuk merayakan setiap pencapaian yang berhasil diraih oleh anak. Bangun hubungan penuh apresiasi, antara anak dengan orang tua. Ucapkan betapa bangganya orangtua dan keluarga atas capaian yang berhasil mereka lakukan. Akui setiap usaha keras yang mereka lakukan.

  4. Bantu anak mengenali dirinya. Mengenali potensi diri adalah suatu hal sulit, apalagi untuk anak dengan disleksia. Hal ini bisa dilakukan dengan cara tidak mudah menyerah, selalu memberikan dukungan, menjadi keluarga tempat bercerita, dan selalu aktif menemukan kelebihan pada anak.

  5. Bantu mengarahkan anak pada hal-hal yang positif. Kenalkan anak pada bermacam hobi atau kegiatan yang dapat membangun rasa percaya diri mereka. Jika anak menyukai dunia olahraga, ajak mereka menonton pertandingan olahraga, dampingi dan bantu mereka memahami apa yang terjadi dalam permainan tersebut.

  6. Hindari “negative self-talk”. Anak dengan disleksia rentan mengalami frustasi dan rasa percaya diri yang rendah. Maka dari itu, jika anak mulai mengatakan hal-hal negatif tentang dirinya, seperti: “Saya bodoh”, “Aku benci belajar”, dan lain sebagainya, maka jangan abaikan hal tersebut. Buka pembicaraan dengan mendengarkan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan, kendala yang mereka hadapi, dan hal yang mengganggu pikirannya. Jangan biarkan anak berpikir terlalu keras tentang dirinya, atau membenci dirinya sendiri.

Berangkat dari uraian diatas, beberapa kunci dukungan bagi anak dengan disleksia adalah pemahaman atas kondisi mereka dan pemberian waktu yang lebih untuk mereka. Anak dengan disleksia perlu waktu yang lebih panjang untuk belajar dan berlatih membaca secara rutin. Mereka juga memerlukan tempat sunyi untuk membantu fokus mereka. Orang tua dapat memberikan akomodasi dan mendukung setiap hal yang dibutuhkan. Bantu juga memperkuat rasa percaya diri anak dengan memberikan penjelasan bahwa disleksia tidak berhubungan dengan tingkat kecerdasan.


Nah, bagaimana menurutmu, Socconians? Semoga hal-hal di atas bisa menambah pengetahuan dan pemahaman kamu tentang disleksia. Harapannya, kamu dapat lebih paham mengenai hal-hal yang harus dilakukan dalam mendukung anak dengan disleksia secara emosional. Selalu jaga serta sadari kesehatan mental kamu dan orang-orang di sekeliling, ya, Socconians! Always support others!


Tim Penulis

Jefri Pranata, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.

Tim Editor

Glaniz Izza A., Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Sohra S.Psi. M.M., M.Psi., Psikolog


Sumber Tulisan

  1. Martinelli, Katherine. (n.d). “Understanding Dyslexia: Know the signs, and how to help kids with the most common learning disability”. Diakses pada tanggal 31 Januari 2020 dari situs childmind.org

  2. Tim Penulis childmind (n.d). “Parents Guide to Dyslexia”. Diakses pada tanggal 31 Januari 2020 dari situs childmind.org

  3. Willy, Tjin (2019). “Disleksia”. Diakses pada tanggal 31 Januari 2020 dari situs alodokter.com

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon