Disleksia dan Kecerdasan Spasial

Halo, Socconians!

Apa yang ada di benak kamu ketika mendengar kata disleksia? Apakah kamu teringat dengan teman-teman yang memiliki permasalahan membaca? Kalau iya, kamu sudah benar. Teman-teman dengan disleksia memang memiliki permasalahan tersebut. Meskipun begitu, tahukah kamu kalau teman-teman disleksia punya keunggulan dalam kecerdasan spasial mereka?

Disleksia adalah gangguan belajar yang berpengaruh pada kemampuan membaca, mengeja, menulis, dan berbicara. Namun, kurang terpaparnya masyarakat terhadap informasi mengenai disleksia menciptakan banyak stereotip buruk tentang teman-teman disleksia. Terdapat miskonsepsi yang menganggap penderita disleksia memiliki kecerdasan di bawah rata-rata karena malas, padahal kondisi disleksia dapat disebabkan oleh faktor genetik.


Sebenarnya, sudah banyak penelitian yang menunjukkan kontribusi genetik terhadap tanda-tanda disleksia. Temuan ini turut menghancurkan miskonsepsi bahwa teman-teman disleksia memiliki IQ rendah. Terlebih lagi, temuan ilmiah juga membuktikan bahwa sebenarnya teman-teman disleksia bisa memiliki kecerdasan di atas rata-rata, lho.


Kecerdasan membaca memang merupakan aspek penting yang seharusnya dimiliki manusia. Seorang peneliti kognitif, Elsbeth Stern, menyatakan kecerdasan membaca adalah kemampuan penting yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ketika seseorang dapat membaca dengan baik, kecerdasan seseorang dapat meningkat karena informasi baru akan menghasilkan koneksi-koneksi baru dalam otak seseorang.


Koneksi baru di otak dapat membuat orang berpikir dengan lebih cepat dan tanggap. Kecerdasan membaca juga dapat dikaitkan dengan keperluan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Seperti misalnya membaca label obat-obatan, mengerti perintah, dan mencerna informasi dari bacaan yang baru dibaca.


Penderita disleksia memang memerlukan waktu jauh lebih lama untuk memahami bacaan dibandingkan teman-teman lainnya. Meskipun teman-teman disleksia tidak mahir dalam membaca, mereka memiliki kelebihan dalam kecerdasan lainnya. Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Mirela Duranovic mengungkapkan bahwa penderita disleksia memiliki kemampuan baik untuk memvisualisasikan sebuah bentuk benda.


Tim peneliti Mirela menemukan fakta ini dari tes melipat kertas. Teman-teman disleksia dapat membayangkan bentuk benda dan melipat kertas biasa menjadi bentuk tiga dimensi secara akurat. Penelitian ini membuktikan teman-teman disleksia memiliki kesadaran spasial yang sangat bagus.


Sebelum kita bahas lebih lanjut, apakah Socconians familiar dengan istilah kecerdasan spasial? Kecerdasan spasial adalah kemampuan seseorang untuk mengenal sebuah ruangan. Kecerdasan ini membuat seseorang peka terhadap perubahan benda-benda di ruangan sekitarnya. Kecerdasan spasial merupakan gabungan antara pemikiran abstraktif dan kemampuan analitis. Kecerdasan ini dibutuhkan ketika seseorang ingin memecahkan teka-teki, membaca peta, dan juga mengerjakan proyek konstruksi.


Kecerdasan spasial sangat dipengaruhi oleh otak kanan. Penderita disleksia memang lebih sering menggunakan sisi kanan otak mereka. Hal ini dikarenakan sisi otak yang bertanggung jawab atas kemampuan berbahasa dan membaca yaitu otak kiri jauh lebih asimetris dibanding sisi otak kanan mereka.


Dengan kecerdasan spasial yang dimiliki teman-teman disleksia, mereka jauh lebih unggul dalam pemetaan ruang dibanding teman-teman lainnya. Mereka dapat memvisualisasikan sebuah ruangan dengan baik. Teman-teman disleksia juga dapat dengan mudah mengetahui lokasi dan tata letak sebuah ruangan.


Keunggulan lainnya adalah teman-teman disleksia memiliki ingatan visual yang bagus. Mereka dapat mengingat rute dan jalan ke sebuah tempat jauh lebih baik dibanding teman-teman lain. Visualisasi gambaran mental adalah keunggulan teman-teman disleksia berkat kecerdasan spasial yang mereka miliki.


Teman-teman disleksia memang memiliki kekurangan dalam hal membaca karena otak kirinya tidak sebagus otak kanan mereka. Akan tetapi, mereka dikaruniai kecerdasan spasial luar biasa. Keunggulan teman-teman disleksia ini dapat menjadi kekuatan terbesar mereka. Mereka dapat menjadi arsitek, insinyur, maupun desainer grafis yang handal jika mereka menyadari kelebihan mereka.


Teman-teman disleksia sadar akan keunggulan yang mereka miliki ini. Meskipun mereka menghadapi banyak kesulitan dalam membaca, terdapat hal luar biasa lainnya yang dapat mereka kuasai dengan mudah. Teman-teman disleksia harus bangga dengan diri mereka sendiri. Kalau Socconians merupakan bagian teman-teman disleksia, semoga informasi ini dapat membuat teman-teman menjadi lebih positif, ya!


Tim Penulis

Hugo Ramsey Teo, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.


Tim Editor

Glaniz Izza A., Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Ayu Siantoro, MSc


Sumber Tulisan

  1. Arx, Eveline von. (2016). “Intelligence is The Most Important Commodity in Today’s Society.” Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs Bold.

  2. Dinelli, Beth. (n.d.). “Common Misconception about Dyslexia”. Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs commonlearn.

  3. Hudson, Roxanne F., Leslie High, and Stephanie Al Otaiba. (n.d.) “Dyslexia and The Brain : What Does Current Research Tell Us?” Diakses pada tanggal 2 Februari 2020 dari situs Reading Rockets.

  4. Jarrett, Chris. (2015). “Is Dyslexia Associated with Exceptional Visual-Spatial Abilities?” Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs The British Psychological Society

  5. .Perlstein, David. (2018). “Dyslexia.” Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs MedicineNet.

  6. Tim Penulis WebMD. (2019). “What Is Dyslexia?” Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs WebMD.

  7. Tim Penulis Right Turn. (n.d.) “The Importance of Reading”. Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs Right Turn.

  8. Tim Penulis Overblog. (2012). “Spatial Awareness”. Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs overblog.

  9. Tim Penulis Brain Metrix. (n.d.) “Spatial Intelligence”. Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs Brain Metrix.

  10. Tim Penulis Dyslexia Victoria. (n.d.) “Dyslexia and Spatial Awareness”. Diakses pada tanggal 28 Januari 2020 dari situs Victoria Online.

  11. Tim Penulis Brain Made Simple. (2019). “Left and Right Hemisphere”. Diakses pada tanggal 2 Februari 2020 dari situs Brain Made Simple.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon