Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon

Anxiety Disorder pada Remaja & Cirinya

Hi, Socconians!

Apakah kamu pernah merasa cemas dan panik ketika berhadapan pada situasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti berhadapan dengan guru atau presentasi di depan kelas? Setiap orang pasti pernah mengalaminya walaupun hanya sekali. Jangan khawatir! Kecemasan merupakan sesuatu yang umum dalam kehidupan. Wajar jika kita sesekali merasa cemas akan suatu hal. Namun, jika kecemasan yang kamu alami sudah terlalu sering, berlebihan, dan muncul tanpa alasan yang jelas, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari, mungkin saja kamu mengalami anxiety disorder. Nah, apa sih anxiety disorder itu? Tim Social Connect akan membantu menjelaskan, ya.



Anxiety disorder atau yang biasa disebut dengan gangguan kecemasan adalah suatu kondisi di mana individu mengalami kecemasan atau ketakutan yang berlebihan dengan frekuensi yang intens, sehingga menyebabkan individu selalu merasa tegang dan waspada. Nah, sekarang Socconians sudah tahu, ya, apa itu anxiety disorder. Mungkin sekarang Socconians penasaran dengan apa yang menyebabkan anxiety disorder. Berdasarkan sumber yang kami peroleh, anxiety disorder ternyata berhubungan dengan stres. Bahkan, anxiety disorder dan stres selalu berjalan secara beriringan. Artinya, jika individu mengalami stres, maka individu tersebut memiliki peluang yang cukup besar untuk terkena anxiety disorder dan begitu pula sebaliknya. Anxiety disorder dapat memperparah stres yang sedang dialami.


Pada remaja yang masih duduk di bangku sekolah, anxiety disorder dapat terbentuk seiring dengan meningkatnya standar pengujian yang ditetapkan di sekolah. Ujian-ujian sekolah yang semakin sulit dan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang semakin tinggi dapat menjadi pemicu stres pada remaja. Jika stres itu dibiarkan berlarut-larut, maka dapat memicu berkembangnya anxiety disorder. Maka dari itu, jika mempunyai masalah di sekolah atau lingkungan sosial, segera selesaikan agar tidak berlarut-larut, ya, Socconians. Kamu juga dapat bercerita kepada orang terdekat agar perasaan menjadi lebih rileks karena anxiety disorder merupakan gangguan yang dapat terjadi pada siapa saja dan dengan tingkatan usia berapa saja, lho. Dan ternyata, remaja merupakan salah satu golongan yang paling rentan terkena anxiety disorder.


Menurut Anxiety and Depression Association of America (ADAA), kurang lebih 25 persen individu dengan rentan usia 13 - 18 tahun mengalami gangguan anxiety disorder. Pada tahun 2010, telah dilaksanakan studi lebih mendalam tentang anxiety disorder yang menghasilkan data bahwa 10--40 persen dari 100 persen siswa ternyata mengalami anxiety disorder. Nah, sekarang Socconians pasti sudah lebih mengerti tentang anxiety disorder, ya. Namun perlu diingat, meskipun anxiety disorder merupakan gangguan kecemasan, hal ini berbeda dengan rasa cemas biasa. Anxiety disorder memiliki ciri-ciri tertentu yang akan disebutkan sebagai berikut.

  1. Individu mengalami kecemasan yang berlebihan yang berlangsung setiap hari dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan.

  2. Rasa cemas yang muncul tidak hanya datang ketika dalam situasi khusus atau berbahaya saja.

  3. Perasaan cemas muncul dengan alasan yang tidak masuk akal, seperti takut akan bernasib sial dan semacamnya.

  4. Muncul perasaan gelisah, tegang, gemetaran dan sebagainya.

  5. Sistem saraf tak sadar berproduksi secara berlebihan, seperti berkeringat, jantung berdebar-debar, nyeri lambung, sakit kepala, dan sebagainya.

Nah, jika Socconians merasa sering mengalami hal-hal di atas, jangan terburu-buru berasumsi kalau kamu terkena anxiety disorder, ya. Berkonsultasilah kepada pihak profesional seperti dokter atau psikolog, karena anxiety disorder bukanlah gangguan yang dapat didiagnosis oleh diri sendiri! Perlu prosedur klinis untuk menetapkan apakah individu terkena anxiety disorder atau tidak. Tim Social Connect mendoakan semoga kamu selalu sehat dan sejahtera.


Ditulis oleh Veny Meilia Sari dan direvisi oleh Andy.

Diedit oleh Zimi dan Fitri Adi Setyorini, S.IP.

Di-review oleh Emha Nelwan Lawani D. L., S.Psi dan dr. Belinda Julivia Murtani, MRes.


Sumber Tulisan

  1. Iliades, C. (2018). Anxiety Disorder: “Seven Causes of Anxiety”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Everyday Health.

  2. Tim Penulis Healthline. (2017). “What is Anxiety?”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Healthline.

  3. Yunifananda, M. S. (2017). “Cemas vs Gangguan Kecemasan: Kenali Perbedaannya”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Hello Sehat.

  4. Tim Penulis Nemours. (2014). “Anxiety Disorder”. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website Kids Health.