Aku Disleksia dan Aku Bangga

Halo, Socconians!

Socconians pasti mengenal tentang istilah disleksia, kan? Disleksia sering kali memiliki konotasi negatif di telinga masyarakat. Akan tetapi, istilah disleksia ini tidak selalu negatif, kok. Bahkan kita dapat mengubah konotasi negatif tentang permasalahan membaca ini menjadi identitas positif.

Miskonsepsi terbesar adalah disleksia berefek pada tingkat kecerdasan seseorang. Faktanya, hal tersebut adalah pemahaman yang keliru tentang disleksia. Banyak teman-teman yang memiliki disleksia merupakan orang-orang cerdas dan kreatif ketika mereka tumbuh dewasa. Disleksia sudah terbukti tidak serta-merta berpengaruh pada kecerdasan seseorang. Miskonsepsi ini disebabkan oleh pembelajaran tradisional yang tidak cocok dengan pembelajaran mereka. Jadi, teman-teman disleksia tidak perlu khawatir.


Miskonsepsi terkait kecerdasan ini banyak yang terlanjur berefek kepada mental teman-teman disleksia. Penderita selalu berpikir kalau mereka tidak sepintar teman-teman sebayanya. Bayangkan ketika penderita disleksia yang masih bersekolah harus membaca di depan teman-temannya dan mereka tidak dapat melakukan hal tersebut. Mereka harus berjuang untuk melakukan hal sederhana seperti membaca dibanding teman-teman lain. Miskonsepsi tentang disleksia dapat menghasilkan tekanan pada mental teman-teman disleksia. Penderita disleksia akan mudah terpengaruh dengan stres. Teman-teman yang memiliki disleksia banyak yang berpikir diri mereka bodoh seumur hidup mereka.


Dampak stres berkelanjutan ini akan berpengaruh kepada kesehatan mental penderita disleksia. Salah satu pengaruh terbesarnya, yaitu dapat menghasilkan gangguan kecemasan (anxiety disorder). Gangguan ini dapat disebabkan oleh perubahan di dalam otak seseorang dan faktor stres yang dipicu oleh lingkungan. Gangguan kecemasan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari penderitanya jika kondisinya sudah parah.


Hasil gangguan kecemasan yang didasari faktor stres lingkungan juga dapat menghasilkan gangguan kecemasan sosial (social anxiety disorder). Gangguan kecemasan sosial ini dapat ditandai dengan kecemasan berlebihan tentang situasi dan konteks sosial seseorang yang harus dialami setiap hari. Adapun reaksi yang ditimbulkan dapat mempengaruhi rasa percaya diri dan hubungan seseorang. Penjelasan ini memberikan kita gambaran secara umum tentang permasalahan yang mungkin timbul dari adanya miskonsepsi tentang disleksia.


Jadi, apa sih yang teman-teman disleksia bisa lakukan? Perlu diingat bahwa disleksia tidak mempengaruhi kecerdasan. Penderita disleksia memiliki tingkat kecerdasan yang setara dengan teman-teman lainnya. Teman-teman disleksia masih memiliki banyak hal positif yang dapat dibanggakan. Berikut merupakan beberapa atribut positif yang dapat dibanggakan oleh teman-teman disleksia.


Kecerdasan spasial yang baik

Peneliti di University of East London menemukan penderita disleksia memiliki ingatan tentang ruang dan tempat (spasial) yang jauh lebih baik dibanding penderita non-disleksia. Banyak sekali penderita disleksia yang mampu berkembang di dunia desain dan teknik industri.


Jago menyelesaikan teka-teki

Mirip dengan poin sebelumnya, ketika penderita disleksia memiliki kelemahan dalam membaca, mereka sangat mahir dalam memecahkan permasalahan bersifat spontan. Teman-teman disleksia memiliki keunggulan untuk memecahkan permasalahan yang cenderung membutuhkan penyelesaian beragam.


Out of the Box Thinker

Penderita disleksia harus berpikir kreatif untuk menyelesaikan masalah. Dikarenakan permasalahan psikis yang dimiliki, mereka terkadang harus memikirkan ide di luar ekspektasi orang-orang biasa. Hal ini justru bisa menjadi kelebihan yang membuat mereka memiliki atribut-atribut positif, seperti pemikir imajinatif, abstrak, kritis, dan analitis.


Memiliki empati pada orang lain

Mungkin karena kerap menghadapi miskonsepsi terkait kecerdasannya, penderita disleksia justru menjadi lebih peka dan malah mudah berempati dengan orang lain. Mereka mudah peduli dengan teman-teman lainnya yang memiliki kesulitan. Mereka pun bisa jadi pendengar yang baik buat orang lain.


Berdasarkan penjelasan di atas, ternyata banyak sekali atribut positif yang dapat dimiliki oleh teman-teman disleksia. Ketika kita dapat memilih untuk menerima kelemahan dan menguatkan kelebihan, kita dapat mengubah perspektif tentang kekurangan tersebut. Teman-teman disleksia, tetap berpikir positif, terus berupaya maksimal dalam berprestasi di berbagai bidang. Kalian semua luar biasa!


Tim Penulis

Hugo Ramsey Teo, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.

Tim Editor

Shinta Setyaningrum, Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Sohra, S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog


Sumber Tulisan

  1. Marianne. (n.d.) “10 Myths About Dyslexia and How They Are Harming Your Kids”. Diakses dari laman web Homeschooling With Dyslexia pada tanggal 23 Januari 2020.

  2. Swari, Risky Candra. (2020). “Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)”. Diakses dari laman web hellosehat pada tanggal 25 Januari 2020.

  3. Tim Penulis Dyslexia Help. (n.d.) “Debunking the Myths about Dyslexia”. Diakses dari laman web Dyslexia Help pada tanggal 23 Januari 2020.

  4. Tim Penulis Ayoa. (n.d.) “Dyslexia” Diakses dari laman web Ayoa pada tanggal 23 Januari 2020.

  5. Tim Penulis PBS News Hour. (2012). “Five Misconception of Learning Disabilities”. Diakses dari laman web PBS News Hour pada tanggal 23 Januari 2020.

  6. Tim Penulis WebMD. (n.d.) “What Are Anxiety Disorder”. Diakses dari laman web WebMD pada tanggal 23 Januari 2020.

  7. Tim Penulis Dylsexia Help. (n.d.) “The Many Strength of Dyslexics” Diakses dari laman web Dyslexia Help pada tanggal 23 Januari 2020.


Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon