5 Tips Menjadi Remaja Anti Hate Speech

Hate speech merupakan istilah yang belakangan merujuk sebagai tren negatif di kalangan remaja, bukan? Yuk, sadari apakah hate speech merupakan gejala stres dan bagaimana tips untuk menjadi remaja anti hate speech?”

Hi, Socconians!

Apakah kamu pernah mendengar istilah hate speech dan beberapa gejala stres pada remaja? Nah, hate speech merupakan salah satu gejala stres pada remaja. Hate speech atau ujaran kebencian adalah gangguan emosional yang ditandai dengan ucapan kebencian dan biasanya menyasar isu-isu sensitif, seperti SARA maupun kaum difabel. Lantas, apa hubungannya dengan gejala stres pada remaja? Pasti pertanyaan itu muncul, ya, Socconians. Stres yang termasuk salah satu kondisi gangguan emosional di mana seseorang tidak mampu memanajemen emosionalnya akibat perilaku yang selalu mengikuti mood. Hal tersebut dapat memicu seseorang menyebarkan ujaran kebencian. Penerima hate speech juga akan mengalami gejala stres apabila tidak mampu memanajemen kondisi emosionalnya, yaitu menanggapinya dengan hate speech juga.

Tidak semua hate speech disebabkan oleh gangguan emosional akibat selalu mengikuti mood, ya, Socconians, meskipun pada umumnya memang iya. Selain mood, ada faktor lain yang menyebabkan remaja terlibat hate speech, seperti kebutuhan gaya hidup, tidak ingin tersaingi, dan tekanan lainnya. Jika kamu atau orang terdekat kamu, sebagai sesama remaja, terkonduksi gejala hate speech, jangan terlalu cepat mengeluarkan atau menanggapi dengan ujaran kebencian. Socconians harus menyadari bahwa perilaku hate speech dapat memicu konflik. Apalagi di usia remaja dengan semangat tak ingin kalah dapat memicu konflik yang berakhir tragedi.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk menjadi remaja anti hate speech? Socconians bisa mengikuti 5 tips berikut untuk menjadi remaja anti hate speech:

  1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Socconians jangan lupa untuk bersyukur, ya. Apabila kita mampu bersyukur atas berbagai keadaan, kemungkinan untuk merasa tertekan dan stres akan berkurang.

  2. Mengikuti pendidikan pola pikir dan pengasuhan yang tepat dari orang tua maupun media lain. Dengan begitu, pembentukan sifat-sifat remaja yang cenderung mengikuti mood dapat dicegah.

  3. Meningkatkan kepercayaan diri. Socconians pasti bertanya-tanya, bukannya penyebar hate speech akan semakin berani? Tidak sepenuhnya benar, Socconians. Menurut ahli psikologi, salah satu sifat yang dimiliki penyebar hate speech adalah kurang percaya diri. Kenapa begitu? Jika seorang remaja tidak percaya diri, cenderung akan menjatuhkan orang lain, salah satu caranya adalah dengan ujaran kebencian.

  4. Melatih diri untuk berpikir kritis. Socconians harus mengetahui bahwa banyak remaja penyebar hate speech yang berujar tanpa pikir panjang. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan melatih diri untuk berpikir kritis, salah satunya memikirkan dampak yang akan terjadi akibat perbuatan kita, Socconians.

  5. Melatih diri untuk tetap tenang dan berpikir positif (kematangan mental). Socconians juga harus memahami bahwa penerima hate speech juga harus mawas diri. Fenomena hate speech akan semakin parah apabila penerima bereaksi terhadap penyebar hate speech. Maka, kematangan mental remaja dituntut untuk menanggapi penyebar hate speech dengan cara yang tepat.

Bagaimana Socconians, sudah paham tips untuk menjadi remaja anti hate speech? Pastinya sudah, kan? Jika masih penasaran dengan hal yang lebih detail, kamu bisa cek artikel Social Connect lainnya, ya! Seperti biasa, selalu jaga kesehatan fisik dan yang paling penting kesehatan mental kamu, ya!

Ditulis oleh Agung Widyo Prayoga dan direvisi oleh Andy.

Diedit oleh Zimi dan Habib Safillah Akbariski.

Di-review oleh Emha Nelwan Lawani D. L., S.Psi dan Rezka Mardhiyana, S.Psi.

Sumber Tulisan

  1. Tim Penulis Detik Health. (2015). “Fenomena Penyebar Hate Speech Dilihat dari Kacamata Psikologi”. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Detik Health.

  2. Tim Penulis Detik News. (2017).Selama 2017 Tangani 3.325 Kasus Ujaran Kebencian. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Detik News.

  3. Tim Penulis Dokter Sehat. (2018). “Ini Penyebab Orang Cenderung Lebih Galak di Media Sosial”. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Dokter Sehat.

  4. Tim Penulis Science Daily. (2018). “Stress (Medicine)”. Diakses pada tanggal 10 Maret 2019 dari website Science Daily.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon