5 Mitos Mengenai Disleksia

Halo, Socconians!

Seberapa sering kamu mendengar istilah disleksia? Jika sudah tidak asing dengan disleksia, apa yang kamu ketahui mengenai istilah tersebut? Jangan-jangan selama ini kamu hanya mendengar mitos-mitos mengenai disleksia tanpa mengetahui kebenarannya? Tenang saja Socconians, kebingungan dan ketidakpastian tersebut akan segera dibahas lewat artikel berikut.

Disleksia, seperti dikutip dari The International Dyslexia Association merupakan ketidakmampuan belajar spesifik yang berasal dari faktor neurobiologis. Hal ini ditandai dengan kesulitan untuk mengenali kata serta kemampuan mengeja yang buruk bagi penderita. Pada umumnya, anak-anak penderita disleksia mengalami kesulitan saat belajar membaca, menulis, atau mengeja kata-kata.


Pengertian tersebut merupakan gambaran singkat mengenai disleksia agar setidaknya kamu mempunyai bayangan dan tidak disesatkan oleh mitos-mitos yang berkembang mengenai disleksia. Berikut mitos-mitos terkait yang telah kami rangkum.


Penderita disleksia tidak bisa berprestasi di sekolah

Mungkin banyak dugaan atau prasangka bahwa siswa dan siswi yang mengalami disleksia tidak bisa berprestasi di sekolahnya. Faktanya, dengan strategi, terapi, dan dukungan pengajaran yang baik, banyak anak disleksia yang bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. Bahkan belum lama ini seorang anak disleksia, Azka Corbuzier yang merupakan anak dari Deddy Corbuzier berhasil membuktikan prestasinya dengan menjadi lulusan terbaik di sekolah.


Anak-anak dengan disleksia tidak bisa sukses dengan karirnya

Mungkin banyak yang beranggapan bahwa anak penderita disleksia tidak dapat sukses dengan karirnya. Meski begitu, nyatanya dengan dukungan yang tepat dari orang tua, seperti konsultasi ke dokter dan psikolog serta terus menunjukan perhatian dan kasih sayang terhadap anak, maka anak disleksia juga tetap bisa berkarya dan menjadi orang yang sukses saat dewasa seperti anak lainnya.


Penderita disleksia adalah pemalas

Gangguan yang dialami oleh penderita disleksia mungkin saja diartikan salah oleh sebagian orang dan menganggap mereka sebagai pemalas. Faktanya, penderita disleksia jauh dari rasa malas. Otak mereka bekerja lima kali lebih keras dari orang lain dalam melakukan tugas yang sama. Hal ini dapat membuat mereka frustasi dan kelelahan, yang mungkin saja dapat menyebabkan penderita disleksia lebih cepat menyerah dalam menyelesaikan tugas-tugasnya dibanding anak lainnya.


Disleksia hanya terjadi pada anak laki-laki

Beberapa pihak beranggapan disleksia hanya bisa terjadi pada anak laki-laki. Faktanya, dalam Journal of American Medical Association, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Sally Shaywitz bersama rekannya di Yale University disebutkan bahwa disleksia bisa terjadi pada anak perempuan maupun laki-laki. Meskipun memang anak laki-laki didiagnosis lebih banyak dibanding anak perempuan. Hal ini dikarenakan anak laki-laki cenderung menunjukkan masalah atau kekurangannya dengan cara duduk diam saat belajar di kelas.


Disleksia adalah tanda IQ rendah

Mitos yang berkembang, disleksia hanya bisa terjadi pada orang-orang ber-IQ rendah saja. Faktanya, disleksia bukan tanda kecerdasan yang rendah. Disleksia dapat terjadi pada anak dari semua latar belakang dan tingkat kecerdasan. Oleh karena itu, ketika seorang anak menderita disleksia bukan berarti ia memiliki IQ yang rendah.


Jadi bagaimana menurutmu, Socconians? Setelah membaca artikel ini, adakah mitos-mitos mengenai disleksia di atas yang selama ini kamu percayai? Semoga dengan membaca artikel ini kamu dapat membedakan mitos dan fakta terkait disleksia. Kamu juga bisa menggunakan referensi ini untuk mempermudah saat kamu harus berhadapan dengan penderita disleksia. Saling bantu mengenal dan menjaga kesehatan mental, ya?


Tim Penulis

Tubagus Fajar Adhitya, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.


Tim Editor

Sulistia Ningsih, Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Sohra S.Psi., M.M., M.Psi., Psikolog


Sumber Tulisan

  1. Andini, Widya Citra. (2016). “Disleksia”. Diakses dari laman web Hello Sehat pada tanggal 23 Januari 2020.

  2. Bleeker, Sydney. (2018). “10 Myths About Dyslexia You Can Definitely Ignore”. Diakses dari laman web The Healthy pada tanggal 23 Januari 2020.

  3. Cahya, Kahfi Dirga. (2017). “10 Mitos Soal Disleksia”. Diakses dari laman web Kompas.com pada tanggal 23 Januari 2020.

  4. Davies, Anastasia Pramudita. (2018). “Anak Deddy Corbuzier Lulusan Terbaik, Disleksia Bukan Akhir Segalanya”. Diakses dari laman web Tempo.co pada tanggal 23 Januari 2020.

  5. Dinelli, Beth. (n.d). “Common Misconceptions about Dyslexia”. Diakses dari laman web Commonwealth Learning Center pada tanggal 23 Januari 2020.

  6. Putri, Bella Jufita. (2017). “4 Mitos Disleksia yang Harus Dipatahkan”. Diakses dari laman web Liputan6.com pada tanggal 23 Januari 2020.

  7. Tim Penulis The Asian Parent Indonesia. (2020). “Anak kesulitan membaca = disleksia? ini yang Parents lakukan untuk membantunya”. Diakses dari laman The Asian Parent Indonesia pada tanggal 15 Januari 2020.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon