4 Tipe Perilaku Bullying yang Tidak Disadari

Hi, Socconians!

Apakah kamu pernah mendengar istilah bullying? Tahukah kamu, bullying adalah sikap melecehkan, mencelakakan secara fisik, ucapan merendahkan yang dilakukan berulang kali, dan upaya mengucilkan orang lain. Dampak seperti sering mengalami depresi, harga diri rendah yang dapat berlangsung seumur hidup, rasa malu, kesepian, penyakit fisik, merasa terancam, bahkan berusaha untuk melukai diri sendiri dapat dialami oleh anak yang menjadi korban dari perilaku bullying.


design by Catteleya Kinanti Puspitasari & copyright belongs to Social Connect

Berdasarkan data yang ditemukan oleh peneliti dari Institut Nasional Kesehatan Anak dan Pengembangan Manusia yang berasal dari Amerika bahwa siswa kelas enam hingga kelas 10 dengan persentase 30 persen terlibat dalam perilaku bullying di sekolah. Di Indonesia sendiri, menurut riset yang dilakukan International Center for Research on Woman tahun 2014 lebih dari empat per lima siswa mengalami setidaknya satu kali kekerasan di dalam sekolah, dengan persentase laki-laki lebih besar yaitu 90% dan perempuan 79%. Kemudian menurut data dari KPAI pada tahun 2018, ada sebanyak 41 kasus yang merupakan kasus anak pelaku kekerasan dan bullying, dari total 161 kasus yang terjadi dalam bidang pendidikan.


Remaja sering menjadi pelaku bullying? Masa, sih? Nah, maka dari itu, tim Social Connect bakal kasih tahu kamu 4 tipe perilaku bullying yang mungkin saja pernah kita lakukan tanpa kita sadari.

  1. Physical Bullying atau perilaku bullying secara fisik. Perilaku memukul, menendang, dan sebagainya merupakan contoh perilaku physical bullying. Perilaku bullying ini dilakukan dengan maksud untuk membuat seseorang merasa takut dan terintimidasi. Selain itu, bisa juga dengan maksud agar seseorang tersebut melakukan sesuatu seperti yang diinginkan oleh si pelaku bullying.

  2. Verbal Bullying atau perilaku bullying melalui perkataan. Perilaku bullying ini cenderung bermaksud untuk mengejek atau menggoda seseorang. Selain itu, perilaku bullying melalui verbal ini menggunakan beragam kata yang bertujuan menjatuhkan harga diri orang lain. Pelaku bermaksud untuk membuat seseorang malu di depan orang lain.

  3. Emotional Bullying atau perilaku bullying. Membuat seseorang merasa terisolasi, kesepian, atau bahkan mengalami depresi adalah tujuan pelaku memilih melakukan bullying secara emosional Perilaku yang dilakukan bisa dengan mengucilkan seseorang dari kelompok, berbohong, atau bersekongkol dengan orang lain. Tak hanya itu, membuat seseorang sampai menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi objek gosip juga termasuk emotional bullying, loh, Socconians.

  4. Cyberbullying, perilaku bullying melalui teknologi, menjadi masalah nyata yang dihadapi oleh remaja karena perilaku bullying tipe ini melalui aplikasi pesan instan, pesan singkat (SMS), atau media sosial yang notabene selalu ada di kehidupan remaja. Perilakunya bisa berbentuk penyampaian maksud jahat yang dilakukan dengan mengirimkan pesan singkat, mengunggah kalimat-kalimat yang menghina mengenai seseorang di aplikasi media sosial Twitter atau postingan foto yang ada di Instagram dikomentari dengan kalimat-kalimat bernada kasar.

Nah, sekarang sudah tahu ya, Socconians, apa saja tipe perilaku bullying yang mungkin kita lakukan pada orang di sekitar kita tanpa disadari. Tak hanya korban, pelaku pun bisa mengalami dampak dari perilakunya, seperti mengalami penyesalan dan merasa gelisah. So, yang bisa kita dilakukan sekarang adalah berperilaku baik dan berhati-hati dalam bertindak, karena baik korban atau pun pelaku bullying akan sama-sama merasakan dampak dalam kehidupannya. Bagi pelaku, kemungkinan untuk memiliki perilaku agresif yang lebih tinggi atau malah mengalami rasa bersalah yang tinggi saat remaja hingga dewasa.


Ditulis oleh Norma Trialisa dan direvisi oleh Andy.

Diedit oleh Zimi dan Furqonnudin Zulkaisi.

Di-review oleh Emha Nelwan Lawani D. L., S.Psi dan Keisha Alika Lie, BPsychSc.


Sumber Tulisan

  1. Bhatla, Nandita dkk. (2015). “Are School Safe and Gender Equal Spaces?”. Diakses pada tanggal 9 April 2019 dari website ICRW.

  2. Laksana, Bisma Alief. (2017). “Mensos: 84% Anak Usia 12-17 Tahun Mengalami Bullying”. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Detik New.

  3. Malick, Amy. (2019). “Study : Bullying Common Among Teens. Diakses pada tanggal 7 Maret 2019 dari website ABC News.

  4. Nurita, Dewi. (2018). “Hari Anak Nasional, KPAI Catat Kasus Bullying Paling Banyak. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Nasional Tempo.

  5. Tim Penulis Bullyingfreenz. (2019). “Bullying Effects Everyone”. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Bullying Free NZ.

  6. Tracy, Natasha. (2017). “Emotional Bullying and How to Deal with an Emotional Bully. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Healthy Place.

  7. Tim Penulis Nemours. (2019). “Dealing With Bullying. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Kids Health.

  8. Tim Penulis Teen Help (2019). “Teenage Bullying. Diakses pada tanggal 8 Maret 2019 dari website Bullying Statistics.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon