3 Cara Penanganan Anak Disleksia

Updated: May 4

Halo, Socconians!

Pernah tidak, pada masa SD atau SMP, kamu menemukan teman atau beberapa orang terdekat yang mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis? Kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan dalam hal membaca dan menulis disebut sebagai disleksia. Disleksia adalah sebuah gangguan yang ditandai dengan kesulitan memahami arti kata, mengeja kata-kata, dan decoding (kemampuan memberikan simbol-simbol pada kata atau huruf). Pada umumnya, fenomena disleksia hanya dirasakan seseorang pada masa kanak-kanaknya. Nah, disleksia ini disebabkan adanya faktor neurobiologist atau perbedaan struktur sel di otak manusia.

Di setiap otak manusia, terdapat bagian untuk mencerna informasi, seperti informasi tentang bahasa (bunyi) dan tulisan. Kedua informasi tersebut tersimpan pada bagian otak yang disebut sebagai gray area. Menurut Booth dan Burman dalam penelitiannya pada 2001, ketika otak anak disleksia yang sedang mencerna sebuah bacaan dan tulisan dipindai menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI), terlihat hanya sedikit sel-sel neuron yang terhubung di bagian gray area-nya.


Meskipun ada perbedaan sel neuron pada bagian otak manusia, hal ini tidak berhubungan dengan kecerdasan tiap orang, lho! Pasti kamu tidak asing dengan Albert Einstein, bukan? Ternyata di balik kecerdasaan sang penemu teori relativitas dan teori-teori hebatnya yang masih relevan sampai sekarang, Einstein pernah mengalami disleksia pada masa kanak-kanaknya.


Anak-anak yang mengalami disleksia tentunya dapat belajar membaca, tapi sulit untuk memprosesnya secara cepat. Maka dari itu, dalam mengajar anak-anak disleksia, dibutuhkan pendekatan yang cukup sistematis dan instruksi yang harus disesuaikan dengan masing-masing anak.


Ada beberapa cara untuk membantu orang-orang terdekat kamu yang mengalami disleksia:


Ajarkan menulis sejak dini

Seorang anak yang mengalami disleksia tidak dapat dideteksi dengan kasat mata, hanya saja keberadaan disleksia dapat mulai terlihat ketika sudah berada di bangku SD atau SMP. Maka dari itu, langkah yang terpenting untuk membantu mereka yang mengalami disleksia adalah mulai mengajarkan mereka menulis di masa prasekolah atau ketika masih TK.

Membantu menulis sejak dini merupakan langkah yang cukup efektif untuk membantu pertumbuhan dan mengaktifkan sel-sel di otak. Pada dasarnya, otak manusia memiliki plastisitas, yang disebut sebagai neuroplasticity, yang menyebabkan sel-sel otak dapat berfungsi dengan lancar ketika bekerja secara terus menerus.


Ajarkan membaca dengan metode phonic

Metode phonic merupakan salah satu cara membaca dengan bunyi-bunyi huruf mencampur bunyi-bunyi secara bersama-sama untuk membentuk kata. Namun, sebelum masuk pada teknik membaca dengan metode phonic, penting sekali untuk memperhatikan kata yang digunakan. Alangkah baiknya menggunakan kata-kata benda nyata terlebih dahulu sebelum menggunakan kata-kata yang abstrak.

Dengan mengajarkan kata-kata yang nyata atau dekat dengan mereka, hal itu membuat anak disleksia lebih mudah mencerna kata-kata tersebut. Contohnya dengan menggunakan kata “baju”. Melalui metode phonic, kamu bisa menggunakan penggalan kata “baju”, seperti BA-JU. Bisa juga dengan mengatakan pada anak disleksia, “dalam kata baju, selain ada huruf BA, ada apa lagi?”. Penting sekali untuk mengajarkan anak disleksia belajar membaca dari benda-benda yang ada di sekitar mereka. Selain membantunya membaca, hal ini sekaligus membangun kepekaan terhadap benda-benda di lingkungannya. Setelah dirasa sudah lancar membaca benda-benda yang ada di sekitar, kamu bisa membantunya dengan kata-kata yang abstrak seperti “individu” atau “masyarakat”.


Lakukan membaca dan menulis secara konsisten

Setelah mencoba melakukan pengajaran melalui menulis dan membaca, selanjutnya kedua hal tersebut perlu dilakukan secara berulang. Awalnya akan cukup berat, tapi jika sudah dilakukan secara berulang, otak anak dengan disleksia akan melakukan kedua hal tersebut secara otomatis. Jangan terlalu mengharapkan kesempurnaan di awal karena semua itu butuh proses.


Seorang anak yang mengalami disleksia sedang dalam proses mengatur ulang sirkuit di sel otak. Mereka mungkin membutuhkan lebih banyak waktu dengan proses yang berulang. Namun siapa sangka seorang yang dulunya ketika masih kanak-kanak mengalami disleksia, saat tumbuh dewasa orang tersebut hebat dalam bidang tertentu, lho. Yuk bantu mereka terutama orang-orang terdekat yang sedang mengalami disleksia!


Tim Penulis

Yoga Prasetyo, Adithya Asprilla, dan Sepriandi.


Tim Editor

Hafiza Dina Islamy, Finda Rhosyana, dan Muhammad Azimi.


Review Medis

Annisa, S.Psi


Sumber Tulisan

  1. J. Richard Gentry, Dec 10, 2013. 5 Big FAQs of dyslexia. Sussex Publishers, LLC. Diakses pada 15 Desember 2020 dari situs Psychology Today

  2. Roxanne F. Hudson, (n.d). Dyslexia and the brain: What does current research tell us?. The Reading Teacher Arlington, USA. Diakses pada 15 Desember 2020 dari situs Reading Rockets

  3. Margie Gillis, (n.d). Treating dyslexia. Fairfield University. Kessler, an attorney with The Legal Aid Society, NYC. Diakses pada 15 Desember 2020 dari situs Smart Kids With ld

  4. Guinevere Eden. (n.d). Treatment for Kids With Dyslexia. The Understood Team. Diakses pada 15 Desember 2020 dari situs Understood.id

  5. Willy, Tjin. 2020. Disleksia. Diakses pada 9 Februari 2020 dari situs Alodokter.

Create by Social Connect with ♥️

  • Black Facebook Icon
  • Black LinkedIn Icon
  • Black Instagram Icon